Selasa, 10 Desember 2019

Shalat Jum'at di Masjid Baru

*SOAL BARU*

Bahsul Masail
Assalamu'alaikum wr wb..
disuatu kampung ada berdiri masjid,lama kelamaan masjid tersebut penuh dan tidak menampung Jama'ah Jum'at untuk Shalat Jum'at,lalu dibangun lah masjid Baru yang lebih besar dengan jarak kurang lebih 500M dari masjid tersebut,Panitia Masjid Baru dan Masyarakat menginginkan Shalat Jum'at dilaksanakan di Masjid Baru yang bisa menampung seluruh Jama'ah.
1.Boleh kah pelaksaan tersebut karena menjadikan Masjid yang lama tidak dishalati Jum'at lagi?
2.apa kah ada solusi lain?

*Jawaban*

1. Shalat jum'at/jamaah di mesjid yang baru sudah sah sebab tidak disyaratkan shalat jum'at harus di mesjid tertentu bahkan di selain mesjid pun sah. Yang penting syiar agama sdh ada dan tidak ada 2 shalat jum'at dalam satu kampung kecuali kampung yg sangat luas maka boleh didirikan 2 shalat jum'at.
2. Mesjid yang lama ada beberapa kemungkinan.
A. Tetap dijadikan tempat shalat selain jum'at, sementara tidak diadakan lagi shalat jum'at karena ada alasan yaitu sudah tidak menampung lagi.
B. Tidak dijadikan tempat shalat lagi.
- apabila tidak ada kekhawatiran apapun maka tetap dijadikan mesjid, karena suatu saat ada kemungkinan kembali dijadikan tempat shalat.
- Ada kekhawatiran, maka boleh dirobohkan dan peralatan yg masih bisa dimanfaatkan dapat dimanfaatkan untuk mesjid yang baru. Dan menurut mazhab syafi'i tidak boleh dijual.
- Menurut mazhab Hambali boleh menjual dan hasilnya kembali digunakan untuk mesjid baru.
وَلَو انْهَدَمَ مَسْجِدٌ وَتعَذَّرَتْ إِعَادتُهُ لَمْ يُبَعْ بِحَالِ، كالعبد إذا عُتق ثم زَمِنَ، وليس كجفاف الشجرةِ لِتَوَقع العمارةِ ولإمكانِ الصَّلاةِ في عَرَصَتِهِ، وكذا لو تَعَطلَ المسجدُ بِتَفَرُّقِ الناسِ عن البلدِ أو خَرَابِهَا فإنهُ لا يباعُ أيضًا بل إن لم يَخَفْ مِن أهلِ الفسادِ نَقْضُهُ لم يُنْقَضْ وإن خِيفَ نُقِضَ وَحُفِظَ نَقْضُهُ، وإن أراد الحاكمُ أن يُعَمِّرَ بهِ مسجدًا آخرَ جازَ وما كانَ أَقْرَبَ إليهِ فَهُوَ أَوْلى (عجالة المحتاج مكتبة شاملة)
روضة الطالبين وعمدة المفتين الجزء 2 صحـ : 268 مكتبة الشاملة الإصدار الثاني
فَرْعٌ لَوِ انْهَدَمَ اْلمَسْجِدُ أَوْ خَرَبَتِ اْلمَحِلَّةُ حَوْلَهُ وَتَفَرَّقَ النَّاسُ عَنْهَا فَتَعَطَّلَ اْلمَسْجِدُ لَمْ يَعُدْ مِلْكاً بِحَالٍ وَلاَ يَجُوْزُ بَيْعُهُ ِلإِمْكَانِ عَوْدِهِ كَمَا كَانَ وَِلأَنَّهُ فيِ اْلحَالِ يُمْكِنُ الصَّلاَةَ فِيْهِ ثُمَّ اْلمَسْجِدُ اْلمُعَطَّلُ فيِ اْلمَوْضِعِ اْلخَرَابِ إِنْ لَمْ يَخَفْ مِنْ أَهْلِ اْلفَسَادِ نَقْضَهُ لَمْ يُنْفَضْ وَإِنْ خِيْفَ نُقِضَ وَحُفِظَ وَإِنْ رَأَى اْلحَاكِمُ أَنْ يَعْمُرَ بِنَقْضِهِ مَسْجِداً آخَرَ جَازَ وَمَا كَانَ أَقْرَبَ إِلَيْهِ فَهُوَ أَوْلىَ وَلاَ يَجُوْزُ صَرْفُهُ إِلىَ عِمَارَةِ بِئْرٍ أَوْ حَوْضٍ وَكَذَا اْلبِئْرُ اْلمَوْقُوْفَةُ إِذَا خَرَبَتْ يُصْرَفُ نَقْضُهَا إِلىَ بِئْرٍ أُخْرَى أَوْ حَوْضٍ لاَ إِلىَ اْلمَسْجِدِ وَيُرَاعَى غَرَضُ اْلوَاقِفِ مَا أَمْكَنَ اهـ
الشرح الكبير لابن قدامة الجزء 6 صحـ : 242 مكتبة الشاملة الإصدار الثاني
(حنبلي )
(وَلاَ يَجُوْزُ بَيْعُهُ إِلاَّ أَنْ تَتَعَطَّلَ مَنَافِعُهُ فَيُبَاعُ وَيُصْرَفُ ثَمَنُهُ فيِ مِثْلِهِ وَكَذَلِكَ اْلفَرَسُ الْحَبِيْسُ إِذَا لَمْ يَصْلُحْ لِلْغَزْوِ بِيْعَ وَاشْتُرِيَ بِثَمَنِهِ مَا يَصْلَحُ لِلْجِهَادِ وَكَذَلِكَ اْلمَسْجِدِ إِذَا لَمْ يُنْتَفَعْ بِهِ فيِ مَوْضِعِهِ وَعَنْهُ لاَ تُبَاعُ اْلمَسَاجِدُ لَكِنْ تُنْقَلُ آلَتُهَا إِلىَ مَسْجِدٍ آخَرَ) وَجُمْلَةُ ذَلِكَ أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ بَيْعُ اْلوَقْفِ وَلاَ هِبَتِهِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فيِ حَدِيْثِ عُمََرَ "غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُبْتَاعُ وَلاَ يُوْهَبُ وَلاَ يُوْرَثُ" فَاِنْ تَعَطَّلَتْ مَنَافِعُهُ بِاْلكُلِّيَّةِ كَدَارٍ انْهَدَمَتْ أَوْ أَرْضٍ خَرَبَتْ وَعَادَتْ مَوَاتاً لاَ يُمْكِنُ عِمَارَتُهَا أَوْ مَسْجِدٍ انْتَقَلَ أَهْلُ اْلقَرْيَةِ عَنْهُ وَصَارَ فيِ مَوْضِعٍ لاَ يُصَلَّى فِيْهِ أَوْ ضَاقَ بِأَهْلِهِ وَلَمْ يُمْكِنْ تَوْسِيْعُهُ فيِ مَوْضِعِهِ فَاِنْ أَمْكَنَ بَيْعُ بَعْضِهِ لِيُعْمَرَ بِهِ بَقِيَّتُهُ جَازَ بَيْعُ اْلبَعْضِ وَإِنْ لَمْ يُمْكِنِ اْلانْتِفَاعُ بِشَيءٍ مِنْهُ بِيْعَ جَمِيْعُهُ اهـ

Selasa, 05 November 2019

Hukum Memakai Cadar dalam Pandangan 4 Madzhab

*Hukum Memakai Cadar dalam Pandangan 4 Madzhab*


Wanita bercadar seringkali diidentikkan(disamakan) dengan orang arab atau timur-tengah. Padahal memakai cadar atau menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam yang didasari dalil-dalil Al Qur’an, hadits-hadits shahih serta penerapan para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam serta para ulama yang mengikuti mereka. Sehingga tidak benar anggapan bahwa hal tersebut merupakan sekedar budaya timur-tengah.

Berikut ini sengaja kami bawakan pendapat-pendapat para ulama madzhab, tanpa menyebutkan pendalilan mereka, untuk membuktikan bahwa pembahasan ini tertera dan dibahas secara gamblang dalam kitab-kitab fiqih 4 madzhab. Lebih lagi, ulama 4 madzhab semuanya menganjurkan wanita muslimah untuk memakai cadar, bahkan sebagiannya sampai kepada anjuran wajib. Beberapa penukilan yang disebutkan di sini hanya secuil saja, karena masih banyak lagi penjelasan-penjelasan serupa dari para ulama madzhab.

Madzhab Hanafi

Pendapat madzhab Hanafi, wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

* Asy Syaranbalali berkata:

وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها باطنهما وظاهرهما في الأصح ، وهو المختار

“Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam serta telapak tangan luar, ini pendapat yang lebih shahih dan merupakan pilihan madzhab kami“ (Matan Nuurul Iidhah)

* Al Imam Muhammad ‘Alaa-uddin berkata:

وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وقدميها في رواية ، وكذا صوتها، وليس بعورة على الأشبه ، وإنما يؤدي إلى الفتنة ، ولذا تمنع من كشف وجهها بين الرجال للفتنة

“Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun bukan aurat jika dihadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki” (Ad Durr Al Muntaqa, 81)

* Al Allamah Al Hashkafi berkata:

والمرأة كالرجل ، لكنها تكشف وجهها لا رأسها ، ولو سَدَلَت شيئًا عليه وَجَافَتهُ جاز ، بل يندب

“Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki. Namun wajah wanita itu dibuka sedangkan kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai sesuatu di wajahnya atau menutupnya, boleh, bahkan dianjurkan” (Ad Durr Al Mukhtar, 2/189)

* Al Allamah Ibnu Abidin berkata:

تُمنَعُ من الكشف لخوف أن يرى الرجال وجهها فتقع الفتنة ، لأنه مع الكشف قد يقع النظر إليها بشهوة

“Terlarang bagi wanita menampakan wajahnya karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah dinampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat” (Hasyiah ‘Alad Durr Al Mukhtaar, 3/188-189)

* Al Allamah Ibnu Najiim berkata:

قال مشايخنا : تمنع المرأة الشابة من كشف وجهها بين الرجال في زماننا للفتنة

“Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah” (Al Bahr Ar Raaiq, 284)

Beliau berkata demikian di zaman beliau, yaitu beliau wafat pada tahun 970 H, bagaimana dengan zaman kita sekarang?

Madzhab Maliki

Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.

* Az Zarqaani berkata:

وعورة الحرة مع رجل أجنبي مسلم غير الوجه والكفين من جميع جسدها ، حتى دلاليها وقصَّتها . وأما الوجه والكفان ظاهرهما وباطنهما ، فله رؤيتهما مكشوفين ولو شابة بلا عذر من شهادة أو طب ، إلا لخوف فتنة أو قصد لذة فيحرم ، كنظر لأمرد ، كما للفاكهاني والقلشاني

“Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan wajah, telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki walaupun wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat ataupun untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau lelaki melihat wanita untuk berlezat-lezat, maka hukumnya haram, sebagaimana haramnya melihat amraad. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Faakihaani dan Al Qalsyaani” (Syarh Mukhtashar Khalil, 176)

* Ibnul Arabi berkata:

والمرأة كلها عورة ، بدنها ، وصوتها ، فلا يجوز كشف ذلك إلا لضرورة ، أو لحاجة ، كالشهادة عليها ، أو داء يكون ببدنها ، أو سؤالها عما يَعنُّ ويعرض عندها

“Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya maupun suaranya. Tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti persaksian atau pengobatan pada badannya, atau kita dipertanyakan apakah ia adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan)” (Ahkaamul Qur’an, 3/1579)

* Al Qurthubi berkata:

قال ابن خُويز منداد ــ وهو من كبار علماء المالكية ـ : إن المرأة اذا كانت جميلة وخيف من وجهها وكفيها الفتنة ، فعليها ستر ذلك ؛ وإن كانت عجوزًا أو مقبحة جاز أن تكشف وجهها وكفيها

“Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya” (Tafsir Al Qurthubi, 12/229)

* Al Hathab berkata:

واعلم أنه إن خُشي من المرأة الفتنة يجب عليها ستر الوجه والكفين . قاله القاضي عبد الوهاب ، ونقله عنه الشيخ أحمد زرّوق في شرح الرسالة ، وهو ظاهر التوضيح

“Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib menutup wajah dan telapak tangannya. Ini dikatakan oleh Al Qadhi Abdul Wahhab, juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam Syarhur Risaalah. Dan inilah pendapat yang lebih tepat” (Mawahib Jaliil, 499)

* Al Allamah Al Banaani, menjelaskan pendapat Az Zarqani di atas:

وهو الذي لابن مرزوق في اغتنام الفرصة قائلًا : إنه مشهور المذهب ، ونقل الحطاب أيضًا الوجوب عن القاضي عبد الوهاب ، أو لا يجب عليها ذلك ، وإنما على الرجل غض بصره ، وهو مقتضى نقل مَوَّاق عن عياض . وفصَّل الشيخ زروق في شرح الوغليسية بين الجميلة فيجب عليها ، وغيرها فيُستحب

“Pendapat tersebut juga dikatakan oleh Ibnu Marzuuq dalam kitab Ightimamul Furshah, ia berkata: ‘Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Maliki’. Al Hathab juga menukil perkataan Al Qadhi Abdul Wahhab bahwa hukumnya wajib. Sebagian ulama Maliki menyebutkan pendapat bahwa hukumnya tidak wajib namun laki-laki wajib menundukkan pandangannya. Pendapat ini dinukil Mawwaq dari Iyadh. Syaikh Zarruq dalam kitab Syarhul Waghlisiyyah merinci, jika cantik maka wajib, jika tidak cantik maka sunnah” (Hasyiyah ‘Ala Syarh Az Zarqaani, 176)

Madzhab Syafi’i

Pendapat madzhab Syafi’i, aurat wanita di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab Syafi’i.

* Asy Syarwani berkata:

إن لها ثلاث عورات : عورة في الصلاة ، وهو ما تقدم ـ أي كل بدنها ما سوى الوجه والكفين . وعورة بالنسبة لنظر الأجانب إليها : جميع بدنها حتى الوجه والكفين على المعتمد وعورة في الخلوة وعند المحارم : كعورة الرجل »اهـ ـ أي ما بين السرة والركبة ـ

“Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha” (Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)

* Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:

غير وجه وكفين : وهذه عورتها في الصلاة . وأما عورتها عند النساء المسلمات مطلقًا وعند الرجال المحارم ، فما بين السرة والركبة . وأما عند الرجال الأجانب فجميع البدن

“Maksud perkataan An Nawawi ‘aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan’, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan” (Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, 411)

* Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib, berkata:

وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها

“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (Fathul Qaarib, 19)

* Ibnu Qaasim Al Abadi berkata:

فيجب ما ستر من الأنثى ولو رقيقة ما عدا الوجه والكفين . ووجوب سترهما في الحياة ليس لكونهما عورة ، بل لخوف الفتنة غالبًا

“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah” (Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 3/115)

* Taqiyuddin Al Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar, berkata:

ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب

“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandnagan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar)” (Kifaayatul Akhyaar, 181)

Madzhab Hambali

* Imam Ahmad bin Hambal berkata:

كل شيء منها ــ أي من المرأة الحرة ــ عورة حتى الظفر

“Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya” (Dinukil dalam Zaadul Masiir, 6/31)

* Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Anqaari, penulis Raudhul Murbi’, berkata:

« وكل الحرة البالغة عورة حتى ذوائبها ، صرح به في الرعاية . اهـ إلا وجهها فليس عورة في الصلاة . وأما خارجها فكلها عورة حتى وجهها بالنسبة إلى الرجل والخنثى وبالنسبة إلى مثلها عورتها ما بين السرة إلى الركبة

“Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk pula sudut kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab Ar Ri’ayah… kecuali wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar hingga paha” (Raudhul Murbi’, 140)

* Ibnu Muflih berkata:

« قال أحمد : ولا تبدي زينتها إلا لمن في الآية ونقل أبو طالب :ظفرها عورة ، فإذا خرجت فلا تبين شيئًا ، ولا خُفَّها ، فإنه يصف القدم ، وأحبُّ إليَّ أن تجعل لكـمّها زرًا عند يدها

“Imam Ahmad berkata: ‘Maksud ayat tersebut adalah, janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada orang yang disebutkan di dalam ayat‘. Abu Thalib menukil penjelasan dari beliau (Imam Ahmad): ‘Kuku wanita termasuk aurat. Jika mereka keluar, tidak boleh menampakkan apapun bahkan khuf (semacam kaus kaki), karena khuf itu masih menampakkan lekuk kaki. Dan aku lebih suka jika mereka membuat semacam kancing tekan di bagian tangan’” (Al Furu’, 601-602)

* Syaikh Manshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti, ketika menjelaskan matan Al Iqna’ , ia berkata:

« وهما » أي : الكفان . « والوجه » من الحرة البالغة « عورة خارجها » أي الصلاة « باعتبار النظر كبقية بدنها »

“’Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah adalah aurat di luar shalat karena adanya pandangan, sama seperti anggota badan lainnya” (Kasyful Qanaa’, 309)

* Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:

القول الراجح في هذه المسألة وجوب ستر الوجه عن الرجال الأجانب

“Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah wajib hukumnya bagi wanita untuk menutup wajah dari pada lelaki ajnabi” (Fatawa Nurun ‘Alad Darb, http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4913.shtml)

Cadar Adalah Budaya Islam

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa memakai cadar (dan juga jilbab) bukanlah sekedar budaya timur-tengah, namun budaya Islam dan ajaran Islam yang sudah diajarkan oleh para ulama Islam sebagai pewaris para Nabi yang memberikan pengajaran kepada seluruh umat Islam, bukan kepada masyarakat timur-tengah saja. Jika memang budaya Islam ini sudah dianggap sebagai budaya lokal oleh masyarakat timur-tengah, maka tentu ini adalah perkara yang baik. Karena memang demikian sepatutnya, seorang muslim berbudaya Islam.

Diantara bukti lain bahwa cadar (dan juga jilbab) adalah budaya Islam :

Sebelum turun ayat yang memerintahkan berhijab atau berjilbab, budaya masyarakat arab Jahiliyah adalah menampakkan aurat, bersolek jika keluar rumah, berpakaian seronok atau disebut dengan tabarruj. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

“Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah terdahulu” (QS. Al Ahzab: 33)
Sedangkan, yang disebut dengan jahiliyah adalah masa ketika Rasulullah Shallalahu’alihi Wasallam belum di utus. Ketika Islam datang, Islam mengubah budaya buruk ini dengan memerintahkan para wanita untuk berhijab. Ini membuktikan bahwa hijab atau jilbab adalah budaya yang berasal dari Islam.

Ketika turun ayat hijab, para wanita muslimah yang beriman kepada Rasulullah Shallalahu’alaihi Wasallam seketika itu mereka mencari kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka.  ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata:

مَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ( وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ ) أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا

“(Wanita-wanita Muhajirin), ketika turun ayat ini: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. Al Ahzab An Nuur: 31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR. Bukhari 4759)
Menunjukkan bahwa sebelumnya mereka tidak berpakaian yang menutupi aurat-aurat mereka sehingga mereka menggunakan kain yang ada dalam rangka untuk mentaati ayat tersebut.

Singkat kata, para ulama sejak dahulu telah membahas hukum memakai cadar bagi wanita. Sebagian mewajibkan, dan sebagian lagi berpendapat hukumnya sunnah. Tidak ada diantara mereka yang mengatakan bahwa pembahasan ini hanya berlaku bagi wanita muslimah arab atau timur-tengah saja. Sehingga tidak benar bahwa memakai cadar itu aneh, ekstrim, berlebihan dalam beragama, atau ikut-ikutan budaya negeri arab.

Kamis, 24 Oktober 2019

IBNU TAIMIYAH BUNGKAM WAHABI YANG ANTI MAULID

📎 IBNU TAIMIYAH BUNGKAM WAHABI YANG ANTI MAULID


Gambar tersebut adalah scan dari kitab Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, karya Ibnu Taimiyah, hal. 621, yang membolehkan dan menganjurkan Maulid. Hal ini berarti membungkam kaum Wahabi yang membid’ahkan dan mengkafirkan perayaan Maulid.

DIALOG SUNNI VS WAHABI SEPUTAR MAULID

Wahabi: “Mengapa Anda mengerjakan Maulid. Padahal itu bid’ah.”

Sunni: “Maulid itu perbuatan baik, dan setiap kebaikan diperintah oleh agama untuk dikerjakan.”

Wahabi: “Mana dalilnya?.”

Sunni: “Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an:
وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Kerjakanlah semua kebaikan, agar kamu beruntung.” (QS. al-Hajj : 77).

Maulid itu termasuk kebaikan, karena isinya sedekah, mempelajari sirah Nabi SAW dan membaca shalawat. Berarti masuk dalam keumuman perintah dalam ayat tersebut.”

Wahabi: “Itu kan dalil umum. Tolong carikan dalil khusus dalam al-Qur’an yang menganjurkan Maulid.”

Sunni: “Sebelum saya menjawab pertanyaan Anda, tolong jelaskan dalil anda yang melarang Maulid.”

Wahabi: “Dalil kami sangat jelas. Maulid itu termasuk bid’ah. Setiap bid’ah pasti sesat. Rasulullah SAW bersabda: “Kullu bid’atin dholalah.” Setiap bid’ah adalah sesat.”

Sunni: “Ah, kalau begitu dalil anda sama dengan dalil kami, sama-sama dalil umum. Yang saya minta adalah, jelaskan ayat atau hadits yang secara khusus melarang maulid.”

Di sini, ternyata si Wahabi mati kutu, dan tidak bisa menjawab. Akhirnya si Sunni berkata: “Anda percaya kepada Syaikh Ibnu Taimiyah?”

Wahabi: “Ya tentu. Beliau itu Syaikhul Islam, ulama besar, dan inspirator dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, panutan kami kaum Wahabi.”

Sunni: “Syaikh Ibnu Taimiyah, membenarkan dan menganjurkan Maulid, dalam kitabnya Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, hal. 621.” Lalu si Sunni menunjukkan teks asli kitab tersebut. Akhirnya si Wahabi terkejut dan terperangah. Mucanya seketika menjadi pucat. Kitab tersebut, dia bolak balik, ternyata penerbitnya juga orang Wahabi di Saudi Arabia. Akhirnya ia berkata:

Wahabi: “Syaikh Ibnu Taimiyah itu manusia biasa. Bisa salah dan bisa benar. Masalahnya Maulid ini tidak memiliki dasar agama yang dapat dipertanggung jawabkan.”

Sunni: “Menurutmu, dasar agama itu apa saja?”

Wahabi: “Al-Qur’an dan Sunnah saja. Selain itu tidak ada lagi.”

Sunni: “Sekarang saya bertanya kepada Anda. Bagaimana hukum seorang anak memukul orang tuanya?”

Wahabi: “Jelas haram dan dosa besar.”

Sunni: “Tolong jelaskan dalil al-Qur’an atau hadits yang melarang memukul orang tua.”

Wahabi: “Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an;
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
“Maka janganlah kamu berkata uff kepada kedua orang tua dan jangan pula membentaknya.”

Dalam ayat tersebut, Allah melarang seorang anak berkata uff, atau berdesis terhadap orang tua, karena jelas akan menyakiti mereka. Apabila berkata uff saja dilarang karena menyakiti, apalagi memukul. Tentu lebih berat dalam hal menyakiti, dan keharamannya lebih berat pula dari pada sekedar berkata uff.”

Sunni: “Owh, ternyata di sini Anda menggunakan dalil Qiyas. Tadi Anda berkata, dalil itu hanya al-Qur’an dan Sunnah. Sekarang justru Anda menggunakan dalil Qiyas. Berarti Anda mengakui Qiyas termasuk dalil, selain al-Qur’an dan Sunnah.”

Wahabi: “Ini kan Qiyas aulawi, dalam artian hukum yang dihasilkan oleh produk Qiyas, lebih kuat dari pada yang ditunjuk oleh teks.”

Sunni: “Harusnya Anda tidak membatasi dalil pada al-Qur’an dan Sunnah saja. Tetapi juga menyebutkan Qiyas, sebagaimana dipaparkan oleh seluruh ulama salaf. Anda tahu, bahwa menurut teori Ushul Fiqih, yang juga diakui oleh Ibnu Taimiyah, produk hukum Qiyas aulawi, lebih kuat dari pada hukum yang diproduk oleh teks. Dalam artian, memukul orang tua lebih haram dan lebih besar dosanya dari pada hanya sekedar berkata uff, karena volumenya dalam menyakiti lebih keras.”

Wahabi: “Di mana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan itu?”

Sunni: “Dalam kitab al-Musawwadah fi Ushul al-Fiqh.” Kemudian si Sunni menunjukkan teks pernyataan Ibnu Taimiyah dalam kitab tersebut. Akhirnya si Wahabi semakin senang, karena kesimpulan hukumnya sesuai dengan kaedah yang ditetapkan oleh Syaikhul Islam-nya.

Wahabi: “Terus apa hubungan pertanyaan Anda, dengan persoalan Maulid yang kita diskusikan?”

Sunni: “Hukum memukul orang tua lebih haram dari pada sekedar berkata uff. Logikanya begini, Anda tahu, mengapa umat Islam dianjurkan puasa Asyura?”

Wahabi: “Ya saya tahu. Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى أَظْهَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِى إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَأَمَرَ بِصَوْمِهِ.
“Dari Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW datang ke Madinah, lalu menemukan orang-orang Yahudi berpuasa Asyura. Lalu mereka ditanya, maka mereka menjawab; “Pada hari Asyura ini Allah memenangkan Musa dan Bani Israil menghadapi Fir’aun, maka kami berpuasa pada hari tersebut karena mengagungkannya.” Lalu Nabi SAW bersabda: “Kami lebih dekat kepada Musa dari pada kalian.” Maka Nabi SAW memerintahkan umat Islam berpuasa.”

Sunni: “Nah di sinilah hubungannya dengan Maulid. Memukul orang tua tadi Anda katakana lebih haram dari pada sekedar berkata uff. Kemenangan Nabi Musa AS layak dirayakan dengan ibadah puasa, sedangkan lahirnya Rasulullah Muhammad SAW jelas lebih agung dari pada kemenangan Musa. Apabila kemenangan Musa AS layak dirayakan dengan suatu ibadah, maka sudah barang tentu lahirnya Nabi Muhammad SAW lebih layak dirayakan dengan acara Maulid.”

Wahabi: “Owh jadi begitu ya, maksudnya. Apakah ada ulama yang menjelaskan pengambilan hukum Maulid dengan yang Anda sebutkan tadi dari kalangan ulama besar?”

Sunni: “Ya banyak sekali, antara lain al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Hafizh al-Suyuthi.”

Wahabi: “Tapi ada satu hal, yang saya kurang setuju dalam perayaan Maulid. Yaitu berdiri ketika membaca Ya Nabi. Itu jelas tidak ada dasarnya.”

Sunni: “Anda pernah menonton orang-orang Wahabi di Saudi Arabia, ketika membaca nasyid (syair atau lagu), secara berjamaah dan berdiri? Kalau tidak tahu, silahkan Anda cari di Youtube, di situ banyak sekali. Itu mengapa mereka lakukan?”

Wahabi: “Ya itu kan bernyanyi dan bersyair bersama. Kalau dengan cara duduk kurang asyik dan kurang nikmat.”

Sunni: “Maulid juga begitu. Kalau menyanyikan Ya Nabi Salam sambil duduk, dengan suara yang keras, kurang asyik juga dan kurang terasa khidmat. Jadil hal ini tidak ada kaitannya dengan wajib atau sunnah.”

Akhirnya si Wahabi mengakui kebenaran Maulid secara syar’i. Alhamdulillah. Semoga bermanfaat.

Rabu, 23 Oktober 2019

BOLEH BERZAKAT KEPADA AHLUL BAIT

 IMAM ISTOKHRI : BOLEH BERZAKAT KEPADA AHLUL BAIT

💐 Jumhur Ulama tidak membolehkan berzakat kepada Ahlul Bait baik yg mendapat bagian dari seperlima-nya harta Ghanimah atau tidak. Ini berdasarkan hadis

Namun Imam Istokhri berbeda pendapat dg jumhur dg membolehkan berzakat kepada Ahlul Bait disaat mereka tidak mendapat bagian dari harta Ghanimah (lebih-lebih zaman yg sudah tidak ada Ghanimah) karena salah satu alasan Baginda Rasulillah ﷺ disaat melarang Ahlul Bait menerima zakat adalah

إن لكم فى خمس الخمس ما يكفيكم او يغنيكم

Seperlima-nya harta Ghanimah sudah cukup bagi kalian

maka disimpulkan : Ketika Ahlul Bait tidak lagi kebagian harta Ghanimah maka boleh berzakat kepada mereka atas dasar cinta.

Al-Bajuri dg tegas membolehkan men-Taqlid pendapat Imam Istokhri dg alasan ada Ahlul Bait yg membutuhkan. Bahkan Beliau berkata : Guruku condong mengikuti pendapat Imam Istokhri dg dasar cinta kepada Ahlul Bait. [Bajuri Juz 1 hal. 285, Cet. Al-Hidayah]

• (وخمسة لا يجوز دفعها) اي الزكاة اليهم ... (وبنو هاشم وبنو المطلب) سواء منعوا حقهم من خمس الخمس أم لا

(قوله وبنو هاشم وبنو المطلب)
المراد بالبنين ما يشمل البنات ففيه تغليب ، فلا يجوز دفع الزكاة لهم لقوله ﷺ «إن هذه الصدقات إنما هي أوساخ الناس وإنها لا تحل لمحمد ولا لآل محمد» لقوله ﷺ «لا أحل لكم أهل البيت من الصدقات شيئا ، إن لكم فى خمس الخمس ما يكفيكم او يغنيكم» أي بل يغنيكم

(قوله سواء منعوا)
ونقل عن الإصطخري القول بجواز صرف الزكاة إليهم عند منعهم من خمس الخمس أخذا من قوله ﷺ فى الحديث «إن لكم فى خمس الخمس ما يكفيكم او يغنيكم» فإنه يؤخذ منه أن محل عدم إعطائهم من الزكاة عند أخذهم حقهم من خمس الخمس - لكن الجمهور طردوا القول بالتحريم -

ولا بأس بتقليد الإصطخري فى قوله الآن لإحتياجهم وكان شيخنا رحمه الله يميل الى ذلك محبة فيهم نفعنا الله بهم [حاشية الباجوري مع الهامش ١/ ٢٨٥] ط. الهداية

• لو مُنِعت بنو هاشم وبنو المطلب حقهم من خمس الخمس هل تحل الزكاة؟ فيه وجهان: أصحهما لا تحل، والثاني تحل، وبه قال الإصطخري، قال الرافعي: وكان محمد بن يحيى صاحب الغزالي يفتي بهذا، ولكن المذهب الأول، وموضع الخلاف إذا انقطع حقهم من خمس الخمس لخلو بيت المال من الفيء والغنيمة أو لاستيلاء الظلمة واستبدادهم بهما - [المجموع ٦/ ٢٢٠]

• محل حرمة الفرض إن أُعطوا من الفيء ما يستحقونه، وإلا جاز إن أضر الفقر بهم، وإن لم يصلوا إلى حد أكل الميتة - [الشرح الكبير ٢/ ٢١٢]

🎍 Semoga Bermanfaat🎍
 ==🔹🔸30052019🔸🔹==


📥 https://t.me/pontrenparamaan

CAIRAN HITAM IKAN CUMI-CUMI HUKUMNYA SUCI DAN HALAL DIMAKAN

 CAIRAN HITAM IKAN CUMI-CUMI HUKUMNYA SUCI DAN HALAL DIMAKAN

💐 Cairan hitam ikan cumi-cumi termasuk sesuatu yg diperselisihkan kesuciannya. Ada yg mengatakan suci dan ada juga yg mengatakan najis. Berikut ini penjelasan Syaikhina Thoifur Ali Wafa, Madura dalam kitabnya "Bulghatut Tullab Fi Talkhishi Fatawa Masyayikhil Anjab, hal. 106 - 107".

Menurut Beliau sebagaimana ygu diterima dari guru Beliau, cairan hitam pada ikan cumi-cumi itu adalah senjata yg dikeluarkan setiap kali ada ikan besar yg ingin memangsanya. Maka yg tepat cairan hitam itu dihukumi suci.

(مسألة - ث) السواد الذي يوجد فى بعض الحيتان مما اختلف فيه هل هو من الباطن فيكون نجسا أو لا فيكون طاهرا فينبغى للعاقل أن يتحققه لأن هذا مما يتعلق بالعيان

(قلت) يعنى أن هذا السواد إذا كان من الباطن فهو أشبه بالقيء فيكون نجسا وإلا فهو أشبه باللعاب فيكون طاهرا

وقد قال بعض مشايخنا : إن هذا السواد شيء جعله الله لصاحبه ترسا يتترس به عن كبار الحيتان ، فإذا قصده حوت كبير ليأكله أخرج هذا السواد فاختفى به عنه فلا يقاس بالقيء ولا باللعاب لكونه خاصا له بهذه الخصوصية ويكون طاهرا والله أعلم [بلغة الطلاب فى تلخيص فتاوى مشايخي الأنجاب ، ص ١٠٦ - ١٠٧]

“Warna hitam yang ditemukan di sebagian jenis ikan merupakan sebagian persoalan yang diperselisihkan apakah termasuk kategori cairan yang keluar dari bagian dalam ikan sehingga tergolong najis, atau bukan dari bagian dalam sehingga dihukumi suci. Hendaknya bagi orang yang berakal agar memperdalam permasalahan ini karena termasuk suatu hal yang berhubungan dengan realitas.

Aku (Syaikhina Thoifur Ali Wafa) berkata : Cairan hitam ini jika memang berasal dari bagian dalam maka lebih serupa dengan muntahan sehingga dihukumi najis, jika tidak dari dalam maka serupa dengan air liur sehingga dihukumi suci.

Sebagian guruku pernah berkata: “cairan hitam ini merupakan sesuatu yang diciptakan oleh Allah pada hewan yang memilikinya untuk dijadikan tameng agar dapat berlindung dari makhluk laut yang lebih besar. Ketika terdapat makhluk laut besar yang akan memangsanya maka ia mengeluarkan cairan hitam ini agar dapat bersembunyi. Maka cairan hitam ini tidak dapat disamakan dengan muntahan ataupun air liur, sebab cairan hitam ini adalah sesuatu yang menjadi ciri khas hewan ini, sehingga dihukumi suci”.

👌 CATATAN FIQIH ISLAM

Kitab "Bulghatut Tullab Fi Talkhishi Fatawa Masyayikhil Anjab" alur penyusunannya sama dengan "Bughyatul Mustarsyidin". Adapun kode (ث)  yg dimaksud adalah kitab Tsamrotur Raudlah (ثمرة الروضة).

🎍 Semoga Bermanfaat🎍
 ==🔹🔸17012019🔸🔹==

Minggu, 20 Oktober 2019

HUKUM MENEPUK PUNDAK IMAM AGAR NIAT IMAMAH

*Rumusan ke.11*

*HUKUM MENEPUK PUNDAK IMAM AGAR NIAT IMAMAH*

Assalamualaikum yi.
Perkenalkan saya Irfan dari Bogor.
Terimakasih sudah di masukan grup BMW.
Semoga semuanya senantiasa di sehatkan dan di panjang umur kan oleh Allah SWT.

Ijin tanya yai.
Sering waktu sholat munfarid tiba ada makmum datang menepuk pundak sebagai isyarat bermakmum.

Hukum menepuk pundak itu sebenarnya gimana yai?
Mohon ibaroh

*Jawban*
Waalaikumsalam wr wb, amiin, sebelumnya terimakasih atas doanya.

Hukum menepuk pundak hukumnya diperbolehkan, bahkan bisa menjadi sunah (mustahab) jika tujuannya agar imam niat menjadi imam karena bisa menolong imam untuk memperoleh fadhilah jamaah sebagaimana diketahui bahwa niat menjadi imam adalah disunahkan karena untuk memperoleh fadhilah jamaah dan karena keluar dari khilaf Ulama yang mewajibkannya.

Namun hukum menepuk pundak imam bisa menjadi makruh jika menimbulkan gangguan pada imam sekira gangguan itu tidak terlalu semisal mengurangi kekhusu’an, atau jika dapat menimbulkan anggapan orang awam hal itu disunahkan atau diwajibkan.

Dan juga bisa menjadi haram apabila gangguan itu keterlaluan, semisal mengagetkan imam sampai membatalkan sholatnya atau imam merasa tersakiti dengan hal itu.

*Ibarot*

*١. شمس المنيرة ج ١ صــ ٣٥٧*
تَصِحُّ لِلإمَامِ نِيَّةُ الإمَامَةِ مَعَ تَحَرُّمِهِ إنْ لَمْ يَكُنْ خَلْفَهُ أحَدٌ إنْ وَثَقَ بالْجَمَاعةِ عَلى الأوْجَهِ لأنَّهُ سَيَصِيْرُ إمَامًا فإنْ لَمْ يَنْوِ وَلَوْ لِعَدَمِ عِلْمِهِ بالْمُقْتَدِيْنَ حَصَلَ لِلْمأْمُوْمِ فَضِيْلَةُ الْجَماعَةِ دُوْنَهُ واِنْ نَوَاهَا فى الأثْنَاءِ حَصَلَ لَهُ الْفَضْلُ مِنْ حِيْنَئِذٍ ( قَال الْفَقِيْهُ الْحَبيْبُ زَيْنُ بْنُ سِمِيطٍ ولِذَلِكَ يَنْبغِي لِمَنْ أرَادَ الاِقْتِدَاءِ بالْمُنْفَرِدِ اَنْ يُشِيْرَ إلَيْهِ بنَحْوِ ضَرْبِ كَتْفِهِ لِيَنْوِيَ ذَلك الْمُنْفَرِدُ الإمَامَةَ فَيَحُوْزُ فَضيلَةَ الْجَمَاعَة )

*٢. فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين صـــ ١٧٩*
(وَنِيَّةُ إِمَامَةٍ) أَوْ جَمَاعَةٍ (سُنَّةٌ لِإِمَامٍ فِيْ غَيْرِ جُمُعَةٍ) لِيَنَالَ فَضْلَ جَمَاعَةٍ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهَا. وَتَصِحُّ نِيَّتُهَا مَعَ تَحَرُّمِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ خَلْفَهُ أَحَدٌ إِنْ وَثِقَ بِالْجَمَاعَةِ عَلَى الْأَوْجَهِ لِأَنَّهُ سَيَصِيْرُ إِمَامًا فَإِنْ لَمْ يَنْوِ وَلَوْ لِعَدَمِ عِلْمِهِ بِالْمُقْتَدِيْنَ حَصَلَ لَهُمُ الْفَضْلُ دُوْنَهُ وَإِنْ نَوَاهُ فِيْ الأَثْنَاءِ حَصَلَ لَهُ الفَضْلُ مِنْ حِيْنَئِدٍ, أَمَّا فِيْ الجُمُعَةِ فَتَلْزَمُهُ مَعَ التَحَرُّمِ.

*٣. حاشية الترمسى الجزء الثانى صــ ٣٩٦-٣٩٧*
(وَيَحْرُمُ) عَلَى كُلِّ أَحَدٍ (اَلْجَهْرُ) فِي الصَّلاَةِ وَخَارِجِهَا (إِنْ شَوَّشَ عَلَى غَيْرِهِ) مِنْ نَحْوِ مُضِلٍّ أَوْ قَارِئٍ أَوْ نَائِمٍ لِلضَّرَرِ وَيَرْجِعُ لِقَوْلِ الْمُتَشَوِّشِ وَلَوْ فَاسِقًا ِلأَنَّهُ لاَ يَعْرِفُ إِلاَّ مِنْهُ. وَمَا ذَكَرَهُ مِنَ الْحُرْمَةِ ظَاهِرٌ لَكِنْ يُنَافِيْهِ كَلاَمُ الْمَجْمُوْعِ وَغَيْرِهِ. فَإِنَّهُ كَالصَّرِيْحِ فِي عَدَمِهَا إِلاَّ أَنْ يَجْمَعَ بِحَمْلِهِ عَلَى مَا إِذَا خَفَّ التَّشْوِيْشُ. (قَوْلُهُ عَلَى مَا إِذَا خَفَّ التَّشْوِيْشُ) أَيْ وَمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ مِنَ الْحُرْمَةِ عَلَى مَا إِذَا اشْتَدَّ. وَعِبَارَةُ الإِيْعَابِ يَنْبَغِي حَمْلُ قَوْلِ الْمَجْمُوْعِ وَإِنْ آذَى جَارَهُ عَلَى إِيْذَاءٍ خَفِيْفٍ لاَ يُتَسَامَحُ بِهِ بِخِلاَفِ جَهْرٍ يُعَطِّلُهُ عَنِ الْقِرَاءَةِ بِالْكُلِّيَّةِ فَيَنْبَغِي حُرْمَتُهُ.

*٤. أسنى المطالب الجزء الثالث صـــ ٢٤٢*
(قوله: لوسوسة) قال ابن العماد لو توسوس المأموم في تكبيرة الإحرام على وجه يشوش على غيره من المأمومين حرم عليه ذلك كمن قعد يتكلم بجوار المصلي، وكذا تحرم عليه القراءة جهرا على وجه يشوش على المصلي بجواره

*٥. حواشي الشرواني الجزء الرابع صــ ٦١*
قوله ورفع صوته ولو في المسجد أي حيث لا يشوش على نحو مصل وقارىء ونائم *فإن شوش بأن أزال الخشوع من أصله كره فإن زاد التشويش حرم* ونائي وفي سم عن الإيعاب ما يوافقه زاد الكردي علي بافضل قال ابن الجمال يكفي قول المتأذي لأنه لا يعلم إلا منه اهـ

*٦. بغية المشترشدين ص : 66 دار الفكر*
(مسألة ك) لايكره فى المسجد الجهر بالذكر بأنواعه ومنه قراءة القران إلا إن شوش على مصل أو آذى نائما بل إن كثر التأذى حرم فيمنع منه حينئذ كما لو جلس بعد الأذان يذكر الله تعالى وكل من أتى للصلاة جلس معه وشوش على المصلين فإن لم يكن ثم تشويش أبيح بل ندب لنحو تعليم إن لم يخف رياء

*٧. احكام الفقهاء الجزء ال

ثانى صـ 5
(  ويحرم) على كل احد (الجهر فى الصلاة وخارجهاان شوش على غيره) من نحو مصل او قارئ او نائم للضرر ويرجع لقول التشويش ولو فاسقا لانه يعرف الا منه. وما ذكره من الحرمة ظاهر لكن ينافيه كلام المجموع وغيره. فانه كالصريم في عدمها الا ان يجمع بحمله على ما اذا خاف التشويش (قوله على ما اذا خاف التشويش) اى وما ذكره المصنف من الحرمة على اذا اشتد. وعبارة الايصاب ينبغى حمل قول المجموع وان اذى على إيتاء خفيف يتسامح به بخلاف جهر يعطله عن القرأة بالكلية فينبغى حرمته. اهـ. وفى الجار النضيد لشيخ الاسلامى الهروى ما نصه: كل مباح يؤدى الى زعم الجهال سنته او وجوبه فهو مكروه. وفى فتح المعين فى باب الجماعة: ما نصه: ونية امامة وجماعة سنة لينال فضل الجماعة الى ان قال: وان نواه فى الاثناء حصل له النفل من حينئذ.

BOLEH BERZAKAT KEPADA AHLUL BAIT

🌺 21. IMAM ISTOKHRI : BOLEH BERZAKAT KEPADA AHLUL BAIT

💐 Jumhur Ulama tidak membolehkan berzakat kepada Ahlul Bait baik yg mendapat bagian dari seperlima-nya harta Ghanimah atau tidak. Ini berdasarkan hadis

Namun Imam Istokhri berbeda pendapat dg jumhur dg membolehkan berzakat kepada Ahlul Bait disaat mereka tidak mendapat bagian dari harta Ghanimah (lebih-lebih zaman yg sudah tidak ada Ghanimah) karena salah satu alasan Baginda Rasulillah ﷺ disaat melarang Ahlul Bait menerima zakat adalah

إن لكم فى خمس الخمس ما يكفيكم او يغنيكم

Seperlima-nya harta Ghanimah sudah cukup bagi kalian

maka disimpulkan : Ketika Ahlul Bait tidak lagi kebagian harta Ghanimah maka boleh berzakat kepada mereka atas dasar cinta.

Al-Bajuri dg tegas membolehkan men-Taqlid pendapat Imam Istokhri dg alasan ada Ahlul Bait yg membutuhkan. Bahkan Beliau berkata : Guruku condong mengikuti pendapat Imam Istokhri dg dasar cinta kepada Ahlul Bait. [Bajuri Juz 1 hal. 285, Cet. Al-Hidayah]

• (وخمسة لا يجوز دفعها) اي الزكاة اليهم ... (وبنو هاشم وبنو المطلب) سواء منعوا حقهم من خمس الخمس أم لا

(قوله وبنو هاشم وبنو المطلب)
المراد بالبنين ما يشمل البنات ففيه تغليب ، فلا يجوز دفع الزكاة لهم لقوله ﷺ «إن هذه الصدقات إنما هي أوساخ الناس وإنها لا تحل لمحمد ولا لآل محمد» لقوله ﷺ «لا أحل لكم أهل البيت من الصدقات شيئا ، إن لكم فى خمس الخمس ما يكفيكم او يغنيكم» أي بل يغنيكم

(قوله سواء منعوا)
ونقل عن الإصطخري القول بجواز صرف الزكاة إليهم عند منعهم من خمس الخمس أخذا من قوله ﷺ فى الحديث «إن لكم فى خمس الخمس ما يكفيكم او يغنيكم» فإنه يؤخذ منه أن محل عدم إعطائهم من الزكاة عند أخذهم حقهم من خمس الخمس - لكن الجمهور طردوا القول بالتحريم -

ولا بأس بتقليد الإصطخري فى قوله الآن لإحتياجهم وكان شيخنا رحمه الله يميل الى ذلك محبة فيهم نفعنا الله بهم [حاشية الباجوري مع الهامش ١/ ٢٨٥] ط. الهداية

• لو مُنِعت بنو هاشم وبنو المطلب حقهم من خمس الخمس هل تحل الزكاة؟ فيه وجهان: أصحهما لا تحل، والثاني تحل، وبه قال الإصطخري، قال الرافعي: وكان محمد بن يحيى صاحب الغزالي يفتي بهذا، ولكن المذهب الأول، وموضع الخلاف إذا انقطع حقهم من خمس الخمس لخلو بيت المال من الفيء والغنيمة أو لاستيلاء الظلمة واستبدادهم بهما - [المجموع ٦/ ٢٢٠]

• محل حرمة الفرض إن أُعطوا من الفيء ما يستحقونه، وإلا جاز إن أضر الفقر بهم، وإن لم يصلوا إلى حد أكل الميتة - [الشرح الكبير ٢/ ٢١٢]

🎍 Semoga Bermanfaat🎍
 ==🔹🔸30052019🔸🔹==


Minggu, 13 Oktober 2019

HUBUNGAN DALIL DAN NATIJAH

HUBUNGAN DALIL DAN NATIJAH (dikomentari oleh 4 madzhab)

Imam haromain &  Imam asy'ari (muslim)
vs
kaum mu'tazilah dan kaum filosof (kafir)

Hubungan antara dalil dan natijah , terkait analisa (nadhor) yang benar akan menghasilkan sebuah  konhklusi (natijah) terdapat 4 pendapat

في افادة النظر الصحيح للنتيجة اربعة مذاهب

1. اﻷول ان النتيجة لازمة للنظر لزوما عقليا لا تنفك عنه بمعنى ان من علم بالمقدمتين امتنع ان لا يعلم النتيجة فالعلم بالنتيجة لازم للمتقدمتين كلزوم الرؤيا للمرئي

نتيجة المهتم ص ٤٠٤

1. Pendapat pertama adalah pendapat imam haromain : beliau berpendapat bahwa mengetahui natijah bersifat AQLI maksudnya adalah natijah merupakan kelaziman dari analisa secara akal dan tidak terpisahkan , tidak karena terlahir atau ter ilati , dalam arti seseorang yang mengetahui kedua muqoddimah tidak mungkin dia tidak mengetahui natijahnya , karna mengetahui natijah adalah kelaziman dari kedua muqoddimahnya seperti contoh : Kelaziman (tetapnya) penglihatan bagi orang yang melihat

2. ان العلم بالنتيجة عادي يمكن تخلفه عن النظر ﻷن النظر مخلوق لله تعالى والعلم بالنتيجة يوجد عنده لا به وهذا مذهب الشيخ اﻷشعري

نتيجة المهتم ص ٤٠٥

 2. Pendapat kedua adalah pendapatnya imam Asy'ari : beliau berpendapat bahwa mengetahui natijah itu bersifat 'AADI (kebiasaan) terkadang natijah tidak selalu mengikuti adanya analisa, karena analisa diciptakan oleh Allah subhanahu wata'ala dan pengetahuan atas natijah ditemukan berdampingan namun bukan atas sebab adanya analisa

ان العلم بعد النظر ممكن حادث يحتاج المؤثر ولا مؤثر الا الله فهو فعله الصادر عنه

شرح البناني على السلم مع حاشية قصارة وسعيد قدورة والسجلمسي ص ٢١١

 Menurut imam Asy'ari : Pengetahuan setelah melakukan analisa adalah perkara mungkin dan baru yang nembutuhkan pada yang mempengaruhi dan tidak ada satupun yang bisa mempengaruhi kecuali Allah subhanahu wata'ala yang mana semua pengaruh bersumber darinya

3. الثالث ان العلم بالنتيجة متولد عن النظر بجعل النظر مقدورا للناظر مباشرة فالنتيجة متولدة عنه كتولد عنه حركة الحاتم عن حركة اﻷصبع وهذا مذهب المعتزلة البانين له على اصل مهدوم وهذا ان العبد يخلق افعال نفسه

نتيجة المهتم ٤٠٥

 3. Pendapat yang ketiga adalah pendapatnya kaum mu'tazilah : mereka berpendapat bahwa mengetahui natijah berifat TAWALLUD maksudnya mengetahui natijah terlahir dari analisa ,  hal ini dengan menjadikan analisa sebagai sesuatu yang mampu dilakukan oleh seseorang sehingga analisa terlahir dari analisa tersebut , sebagaimana gerak cincin yang terlahir dari gerakan jari jemari

4. الرابع ان النتيجة معلول للنظر ، وهو علة ، وهذا مذهب الفلاسفة القائلين بتأثر العلة وهو باطل ﻷن العلة لا تفارق معلولها والنظر لا يجامع النتيجة ﻷنه ضد العلم فلا يجامعه

نتيجة المهتم ص ٤٠٧

 Pendapat ke empat : adalah pendapat kaum Filosof : mereka berpendapat bahwa mengetahui natijah wajib (illat) 'aqli . Maksudnya natijah merupakan sesuatu yang di illati dengan adanya analisa dan analisa adalah illatnya , menurut mereka illat itu memiliki pengaruh , menurut pendapat yang benar , Pendapat kaum filosof ini batal (tidak benar) karna seharusnya (illat) itu tidak berpisah dari ma'lulnya dan (nadhor/analisa) tidak bisa bergabung dengan natijah sebab (analisa) lawan kata (ilmu binnatijah) oleh karna itu tidak bisa menggabungkan keduanya

والرابع مذهب الحكماء وهم الفلاسفة القائلون باﻹيجاب الذاتي وتأثير العلة للمعلول والنظر علة عندهم اثرت في وجود النتيجة

 شرح البناني على السلم مع حاشية قصارة وسعيد قدورة والسجلمسي ص ٢١٢

Kaum filosof berkata : illat memiliki pengaruh pada yang di illati yang dimaksud illat menurut mereka adalah nadhor (analisa) yang mana analisa yang mempengaruhi keberadaan natijah

وكفى في بطلان مذهبهم تضافر اﻷدلة القطعية عقلا ونقلا على انفراد الله تعالى بإيجاد الكائنة لا اله الا هو . قوله (عقلا ونقلا) اما العقلية فواضحة واما النقلية فقال تعالى هل من خالق غير الله ، والله خلقكم وما تعملون ، الله خالق كل شيء واذا بطل اﻷصل المبني عليه وهو كون العبد يخلق افعاله بطل الفرع المبني

شرح البناني على السلم مع حاشية قصارة وسعيد قدورة والسجلمسي ص ٢١٢

Beberapa dalil Qoth'i baik naqli maupun naqli saling berkaitan dalam mematahkan pendapat-pendapat mereka yang tidak benar tentang permasalahan

ke esaan Allah yang mewujudkan keberadaan mahluk (tidak ada tuhan selain dia Allah

(Dalil aqli dan dalil naqli) dalam permasalahan dalil aqli sudah jelas tanpa penjelasan lebih lanjut sedangkan untuk dalil naqil ialah firman Allah pada ayat

هل من خالق غير الله
والله خلقكم وما تعملون
الله خالق كل شيء

Dalil dalil naqli dan aqli yang telah di jelaskan mampu mematahkan pendapat mereka "bahwa seorang manusia/hamba melakukan sesuatu atas dasar dari dirinya sendiri" ibarat bangunan jika pondasinya roboh maka puing puing lain nyapun ikut roboh

والفرق بين مذهب المعتزلة ومذهب الفلاسفة
- ان المعتزلة يقولون ان اقدار العبد على ايجاد الفكر من الله تعلى
-والحكماء يقولون من عند واهب الصور العقل الفعال ويزعمزن ابعدهم الله ان اللوح المحفوظ والكتاب المبين في لسان الشرع عبارت عنه وهذا من هوسهم لذا لا شبهة لهم عليه والعلم ببطلان هذا القول والذي قبله مبسوط في علم اصول الدين

شرح البناني على السلم مع حاشية قصارة وسعيد قدورة والسجلمسي ص ٢١٢

Perbedaan mencolok antara madzhab mu'tazilah dan madzhab filsafat adalah

- Menurut madzhab mu'tazilah kemampuan seseorang menemukan pemikiran itu datangnya dari Allah ta'ala (namun pekerjaan yang dilakukan murni dari dirinya)

- Menurut madzhab filsafat : yang memberi gambaran itu adalah akal dan yang melakukanya juga akal , dugaan mereka yang menjauhkan mereka dari Allah adalah pernyataan lauhul mahfud , alqur an adalah fiksi yang timbul dari dalam akal

Pernyataan ini adalah pernyataan gila , yang sebelum nya belum ada yang menyamai

Untuk mengetahui keterangan lebih lanjut silahkan baca dalam ilmu ushuluddin di situ dijelaskan panjang lebar permasalahan seperti ini

Wallahu a'lam

Penerjemah sekaligus pengibarot : AHMED A. BILFEYD

Download kitab antik disini :  https://archive.org/details/20190807_20190807_0119

Untuk gabung dengan group telegram silahkan klik : https://t.me/nahwuku

Jumat, 11 Oktober 2019

AMALAN HARI JUM'AT

📎 7 AMALAN PADA HARI JUM'AT

فــُوائــــــــد كــبــــــــــــيرۃ تختص بسيد الأيام  يوم الجمعة :

١. من قال بعد غسل الجمعة مائة مرة يامهيمن رزقه الله المهابة والجلال 

٢. من قرأ بين أذاني الجمعة سورة القدر ٧ مرات، قضى الله دينه           

٣. من قال بعد صلاة الجمعة ٣٣ مرة يا باطن، جعله الله من أهل  الباطن   

٤. من قرأ وهو ثان رجليه بعد صلاة الجمعة وقبل أن يتكلم الفاتحة  والإخلاص والفلق والناس كل واحدة ٧ مرات، حفظه الله من كل سوء  إلى الجمعة القابلة       

٥. من قال بعد الجمعة مائة مرة اللهم أكفني بحلالك  عن حرامك  واغنني بفضلك  عمن سواك، لم تمض عليه جمعة إل وأغناه الله أي: سخر له رزقآ

٦.  من قال ساعة الدعاء  للمؤمنين والمؤمنات في الخطبة : ياغني  يامغني أربعين مرة؛ يقول في رأس كل عشر منها : أغنني ، إلا  وسع  الله  عليه  رزقه             
 
٧. من صلى على النبي صلى الله عليه وسلم بعد عصر الجمعة (بأي صيغة ) ثمانين مرة، غفر له ذنوب ثمانين سنة ، فإن لم يكن عليه مايقابل هذا غفر ﻵبائه ورفع في درجاته، وورد أن من صلى بهذه الصيغة : (اللهم صل على سيدنا محمد النبي الأمي وعلى آله وصحبه وسلم تسليما) بعد عصر الجمعة كتب له عبادة ثمانين سنة مع ما ذكر.

ومن اكثر الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم يكفى همه ويغفر ذنبه ويقضى دينه وكانت له شفاعة  عند النبي صلى الله عليه وسلم وكان اقرب منزلا من النبي صلى الله عليه وآله وسلم يوم القيامة

مستفاد من مجالس  الحبيب  زين بن سميط والحبيب سالم الشاطري  حفظهم الله


Faedah Agung Yang Khusus di Amalkan di Hari Jum'at

1. Barangsiapa yang membaca Ya Muhaimin 100x setelah mandi jum'ah, maka Allah SWT akan memberikan kewibawaan dan kemulyaan.

2. Barangsiapa yang membaca surat Al-Qodar 7x antara 2 adzan di hari jum'ah, maka Allah SWT akan melunasi semua hutangnya.

3. Barangsiapa yang berucap Ya Baathin 33x setelah sholat jum'ah, Allah swt akan menjadikan-nya dari ahli bathin.

4. Barangsiapa setelah sholat jum'at membaca  Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas masing 7x tanpa merubah posisi duduknya (tasyahhud akhir) dan tanpa berbicara sebelumnya, maka Allah SWT akan menjaganya dari semua kejelekan sampai jum'at berikutnya.

5. Barangsiapa setelah sholat jum'ah membaca ALLOOHUMMA AKFINIY BIHALAALIKA 'AN HAROOMIKA WAGHNINIY BIFADLIKA 'AMMAN SIWAAK, maka segala kebutuhannya akan terpenuhi hingga hari berikutnya.

6. Barangsiapa yang berdoa YAA GHONIYYU YAA MUGHNIIY 40X, setiap 10 dari bacaan tersebut ditambahi AGHNINIY, ketika do'a mukminin mukminaat pada khutbah kedua, maka Allah SWT akan meluaskan rizkinya.

7. Barangsiapa yang bersholawat kepada Nabi SAW setelah ashar hari jum'at 80x, maka Allah SWT akan mengampuni dosanya 80 tahun, jika memang si pembaca tidak memiliki dosa sebanyak itu,maka keutamaan tersebut akan diberikan kepada kedua orangtuanya dan Allah SWT akan mengangkat derajat mereka.

Ada riwayat bahwasan-nya yang membaca sholawat dengan sighoh ini ALLOOHUMMA SHOLLI 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMIY WA 'ALAA AALIHI WASOHBIHI WA SALLIM TASLIIMAA setelah asar hari jum'at, maka akan ditulis untuknya pahala ibadah 80 tahun.

"Barangsiapa yang memperbanyak sholawat atas Nabi SAW, maka Allah SWT akan menyelesaikan semua urusannya, mengampuni segala dosanya, melunasi hutangnya, dan sholawat tersebut akan menjadikan sebab dia memperoleh syafaat Nabi SAW, dia kan berada paling dekat kedudukan-nya di sisi Nabi SAW pada saat hari kiamat"

Disadur dari majlis Habib Zein bin Sumaith dan Habib Saalim As-Syaatir

ANTARA ULAMA DAN WALI

📎 ANTARA ULAMA DAN WALIYULLOH

قال الشيخ سراج الدين البلقيني رحمه الله: اعلم أن ما يفتح الله تعالى به على قلوب الفقهاء من استنباطات المسائل أعظم نفعاً مما يفتح الله تعالى به على الأولياء من الكرامات و الخوارق لأن نفع الكرامات قاصر ونفع الاستنباطات متعدٍ إلى الأمة. { الأجوبة المرضية للشعراني } ٤٣٧

Syeikh Sirojud Diin Al-Balqoini berkata :

"Ketahuilah ! sesungguhnya pemahaman yang Allah SWT berikan pada hati para ahli agama (fuqoha) untuk memaparkan, menjelaskan tentang masalah-masalah agama lebih besar manfaatnya dibandingkan dengan kemanfaatan yang Allah SWT berikan kepada para wali-Nya dari bentuk karomah dan segala sesuatu yang di luar kebiasaan manusia. Karena kemanfaatan karomah sedikit (bagi ummat), sedangkan kemanfaatan pemaparan masalah-masalah agama amat sangat besar bagi ummat"

📚 Kitab Al-Ajwibah Al-Mardiah - Imam Sya'roni, hlm 437

BILA NU DITUDUH BID'AH

Apabila selain NU berkata:
"Peringatan mawlid bid'ah, do'a bersama bid'ah, dzikir berjama'ah setelah sholat bid'ah, dzikir dengan suara keras setelah sholat bid'ah, tahlilan bid'ah, pujian setelah adzan bid'ah dan seterusnya, karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi"

Maka katakanlah:
Jika setiap yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi itu bid'ah, bagaimana dengan pengumpulan al Qur'an yang mulai dilakukan pada masa Sayyidina Abu Bakar dan penulisan al Qur'an dalam mushhaf yang pertama dilakukan pada masa Sayyidina Utsman?!, termasuk bid'ah yang baik atau bid'ah yang buruk?!

Apabila Wahhabi berkata:
Kalau itu bukan bid'ah, karena pengumpulan al Qur'an dan penulisan al Qur'an dalam mushhaf itu dilakukan oleh seorang sahabat.

Maka katakanlah:
Bukankah tadi kalian katakan, bahwa setiap yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi itu bid'ah?!, berarti sekarang definisi bid'ah kalian ralat menjadi "Setiap sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabat?!.
✔️Apabila yang dilakukan oleh Abu Bakr bukan bid'ah kenapa ketika beliau mendapat usulan pengumpulan al Qur'an dari Sayyidina Umar, beliau awalnya berkata:
كيف أفعل شيئاً لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ فقال عمر: هو والله خير
"Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah?, kemudian Sayyidina Umar mengatakan: "Demi Allah itu adalah baik".
👆Bukankah itu pengakuan dari Abu Bakr bahwa itu bid'ah, dan meskipun bid'ah kemudian Umar menyatakan bahwa itu bid'ah yang baik?!.

✔️Apabila kalian tidak mau menyebut bid'ah terhadap sesuatu yang dibuat oleh para sahabat, sekarang kalian saya tanya dengan dua pertanyaan:
1⃣Apakah adzan kedua dalam sholat Jum'at yang dibuat oleh Sayyidina Utsman bukan bid'ah?!, apakah sholat Tarawih dengan 20 rekaat secara berjama'ah yang dibuat pertama kali oleh Sayyidina Umar bukan bid'ah?!.
✔️Apabila kalian mengatakan bid'ah maka kalian telah meralat lagi definisi bid'ah yang baru saja kalian ralat, jika kalian mengatakan itu bukan bid'ah maka kalian telah menyalahi para ulama kalian sendiri semisal Nashiruddin al Albani yang membid'ah sesatkan kedua amalan tersebut.
Kalian juga menyalahi perkataan Sayyidina Umar yang menyebut sholat Tarawih 20 rekaat dengan berjamaah adalah bid'ah, beliau berkata:
نعمت البدعة هذه
"Sebaik-baiknya bid'ah adalah ini".

2⃣Pemberian titik dan harakat dalam mushhaf itu bid'ah yang baik atau buruk?. Karena pemberian titik dan harakat tidak dilakukan oleh para sahabat, tetapi oleh seorang tabi'in yang bernama Yahya bin Ya'mur.
👆Di sini tidak mungkin lagi bagi Wahhabi untuk merubah definisi bid'ah lagi. Pilihannya mengakui adanya bid'ah yang baik (hasanah), atau menganggap pemberian titik dan harakat dalam mushhaf itu bid'ah yang buruk atau sesat.
✔️Apabila mereka menganggapnya sebagai bid'ah yang sesat, maka katakanlah kepada mereka, silahkan kalian baca al Qur'an yang tidak bertitik dan tidak berharakat apabila kalian bisa?! Dan jangan kalian cetak dan sebarkan mushhaf yang bertitik dan berharakat lagi!!. Apabila kalian tetap melakukannya berarti kalian pelaku dan penyebar bid'ah.

Apabila Wahhabi berkata:
"Itu bukan bid'ah dalam ibadah, apabila dalam masalah ibadah maka semua bid'ah itu sesat"

Maka katakanlah:
Apakah orang yang membaca al Qur'an yang ada titik dan harakatnya tidak sedang beribadah kepada Allah? Apakah dia tidak akan mendapatkan pahala karena membaca al Qur'an yang ada titik dan harakatnya?!

Jangan bicara semaunya sendiri..

Selasa, 08 Oktober 2019

KEDUDUKAN IMAM IBNU HAJAR AL-HAITAMI DAN IMAM RAMLI DALAM MAZHAB SYAFII

📎 KEDUDUKAN IMAM IBNU HAJAR AL-HAITAMI DAN IMAM RAMLI DALAM MAZHAB SYAFII

Syaikhul Islam Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H) dan
Imam Syamsuddin Muhammad Ramli (919-1004 H)
yang di kenal dengan gelar syafii shaghir (Imam Syafii Kecil),

Merupakan dua ulama mutaakhirin dalam mazhab Syafii yang menjadi rujukan utama para ulama semasa dan sesudah keduanya sampai sekarang.

Para ulama sepakat bahwa hukum yang di sepakati oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli merupakan hukum yang paling kuat. Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih di dahulukan bila terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli.

Ulama Negri Hadharamaut, Syam, Akrad, Daghistan, dan kebanyakan ulama Yaman dan beberapa negri lainnya lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Sedangkan ulama Negri Mesir atau mayoritas ulama Mesir dan sebagian ulama Yaman lebih mendahulukan pendapat Imam Ramli bahkan masyhur berita bahwa para ulama Mesir telah berjanji tidak akan berfatwa dengan menyalahi pendapat Imam Ramli. Dalam beberapa hal yang berbeda pendapat dengan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Ramli mengikuti pendapat bapak beliau, Imam Syihabuddin Ramli.

Imam Syarani ketika menceritakan riwayat Imam Syihabuddin Ramli menerangkan “Allah taala menjadikan para fuqaha tetap pada pendapat beliau (Syihab Ramli) baik di timur dan barat, di Mesir, Syam dan Hijaz, mereka tidak menyalahi pendapat Imam Syihab Ramli".
Imam Sulaiman Kurdi menyebutkan “kemungkinan hal ini terjadi sebelum muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, manakala muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, para ulama Nengri Syam dan Hijaz tidak menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar”.

Namun ada juga beberapa ulama Mesir yang lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar, bahkan Syeikh Ali Syabramalisi, ulama Mesir yang memberi hasyiah pada kitab Nihayah Muhtaj karangan Imam Ramli, pada mulanya lebih menekuni kitab Tuhfah Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Hingga pada satu malam beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ramli, beliau berkata “hidupkanlah kalamku ya Ali, Allah akan menghidupkan hatimu” maka semenjak saat itu Imam Ali Syibramalisi menekuni kitab Nihayah Muhtaj sehingga beliau menulis hasyiah atas kitab Nihayah Muhtaj yang terkenal sampai saat ini. Imam Qalyubi yang juga ulama Mesir (yang memberi hasyiah terhadap kitab Syarh al-Mahalli ala Minhaj Thalibin) pada beberapa tempat juga lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Sedangkan ulama Haramain (Makkah dan Madinah) pada mulanya lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Kemudian datanglah para ulama Negri Mesir ke Haramain. Mereka menerangkan dan mentaqrirkan pendapat mutamad imam Ramli dalam majlis pengajaran mereka sehingga mutamad Imam Ramli juga masyhur di Makkah dan Madinah, hingga akhirnya para ulama yang menguasai dan memahami kedua pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli menerima keduanya tanpa mengunggulkan salah satunya.

Kesepakatan Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli memiliki kedudukan yang kuat dalam Mazhab Syafii, bahkan syeikh Said Sunbul al-Makki mengatakan “tidak boleh bagi seorang mufti berfatwa dengan pendapat yang menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli terutama kitab Tuhfah dan Nihayah walaupun sesuai dengan pendapat keduanya dalam kitab yang lain". Beliau mengatakan “sebagian para ulama dari daerah Zamazimah telah memeriksa kalam kitab Tuhfah dan Nihayah, maka beliau mendapati kedua kitab tersebut merupakan sandaran dan pilihan mazhab Syafii”. Pernyataan Syeikh Said Sunbul ini juga di ikuti oleh Syeikh Muhammad Shalih al-Muntafiqy.

Secara umum pada masalah-masalah yang terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli, pendapat Imam Ramli lebih ringan dari pada pendapat mutamad Imam Ibnu Hajar. Beberapa ulama melakukan pengkajian khusus tentang perbedaan antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli dan membukukannya dalam kitab khusus, antara lain kitab Busyra Karim karangan Syikh Sa’id Muhammad Ba’ashan, Itsmidul ainaian fi ba'dh ikhtilaf asy-Syaikhaini karangan karangan Syeikh 'Ali Bashiri yang di cetak bersamaan dengan kitab Bughyatul Mustarsyidin karangan Sayyid Ba'alawi al-Hadhrami, kitab Fathul ‘Ali bi Jam’i Bi Jam’i Khilaf Baina Ibn Hajar wa Ramli karangan Syeikh Umar bin Habib Ahmad Bafaraj Ba’alawi.
Ibnu Hajar, selain dengan kitab Tuhfahnya juga di kenal karena banyak meninggalkan kitab-kitab karangan yang lain dalam berbagai jenis ilmu.

Beberapa kitab beliau dalam ilmu fiqh adalah :
Tuhfatul Muhtaj Syarah Minhaj
al-Imdad Syarah al-Irsyad
Fathul Jawad Syarah al-Irsyad (3 jilid)
Ittihaf ahli al-Islam bi Khushushiyat ash-Shiyam
al-I’lam bi Qawathi’ al-Islam
Idhah al-Ahkam lima Yakhuzuhu al-‘Ummal wa al-Hukam
al-i’ab Syarah al-Ubab
Hasyiah ‘ala Idhah Manasik Imam Nawawi
Syarah Mukhtashar ar-Raudh
Syarah Mukhtashar Abi Hasan al-Bakri
Syarah Muqaddimah Bafadhal yang kemudian di beri hasyiah oleh ulama Nusantara, Syeikh Mahfudh Termasi
Minhaj ath-Thalibin fi Mukhtashar al-Muharrar Imam Rafii
Kaff ar-Ria an Muharramati al-Lahwi was Sima
Fatawa Kubra Fiqhiyah, sebuah kitab kumpulan fatwa-fatwa beliau. Dalam kitab fatwa tersebut banyak kitab-kitab risalah Ibnu Hajar yang merupakan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang datang kepada beliau.
Dari kitab-kitab Imam Ibnu Hajar al-Haitami tersebut, yang lebih di dahulukan adalah Kitab Tuhfah Muhtaj ala Minhaj Thalibin kemudian kitab al-Imdad, selanjutnya Syarh Bafadhal kemudian kitab Fatawa beliau, kemudian kitab Syarah al-Ubab.

Di Indonesia, ilmu fiqh kedua imam ini berkembang dengan baik. Kitab fiqh yang banyak membawa pandangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami yang di ajarkan di pesantren di Indonesia antara lain, Fathul Mu’in yang merupakan karangan murid Ibnu Hajar al-Haitami, Syeikh Zainuddin al-Malibari, Hasyiah Qalyubi 'ala Syarah al-Mahalli. Sedangkan kitab fiqh yang banyak membawa pendapat Imam Ramli yang di ajarkan di pesantran antara lain kitab Hasyiah al-Bajuri karangan Syeikh Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah Syarqawi ‘ala Syarah Tahrir karangan Syeikh Abdullah Syarqawi, Kitab Hasyiah Bujairimi karangan Syeikh Sulaiman al-Bujairimi. Sedangkan Hasyiah I'anatuth Thalibin karangan Sayyid bakri Syatha lebih sering membawa pendapat kedua Imam ini ketika terjadi perbedaan di antara keduanya tanpa menguatkan salah satunya.
Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengarang kitab Tuhfatul Muhtaj

Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah kepada kita untuk selalu mengikuti jejak-jejak para ulama aswaja.

Amiin.

Referensi : Fawaid MadaniyahSyeikh Sulaiman Kurdi

@fiqhkontemporer

NKRI SUDAH BERSYARIAH

NKRI SUDAH BERSYARIAH

Oleh : Ajengan Cep Herry Syarifuddin
(Pengasuh pesantren Sabilir Rohim Cileungsi)

Kata siapa negara kita belum bersyariah ?

Berarti orang yang menuduh tersebut tidak mengerti syariah itu sendiri.

Awalnya syari'ah itu mencakup semua ajaran tauhid, fiqh dan tasawuf (akhlaq), lalu mengalami penyempitan maksud menjadi fiqh saja.

Lalu fiqh itu sendiri terbagi empat bagian, ada fiqh ibadah (sholat, puasa, zakat, haji dan yang terkait), fiqh munakahat (nikah, cerai, ruju', waris dan yang terkait), muamalat (bisnis Islam) dan jinayat (pidana Islam).

Lalu apakah pemerintah kita tidak memfasilitasi peribadatan?

Mulai jadwal waktu sholat dan puasa, penentuan awal Ramadhan dan Lebaran lewat hisab dan rukyat, adzan sholat Maghrib dan Shubuh di stasiun televisi, pembentukan lembaga Amil Zakat Nasional dan swasta beserta perangkat undang-undangnya, pengurusan ibadah haji dan umrah berikut perangkat hukumnya sudah ditangani oleh pemerintah.

Semua yang melakukan ibadah dilindungi oleh pemerintah.

Apakah fiqh ibadah yang telah dilindungi pelaksanaannya dan difasilitasi oleh pemerintah tadi bukan syari'ah?

Begitu pula urusan fiqh munakahat, semua perangkat hukum terkait mulai dari perundang-undangannya yang banyak  digali dari kitab-kitab fiqh Syafi'i dan pengadilan agamanya sudah difasilitasi oleh pemerintah.

Dengan begitu pemerintah sudah menegakkan syari'ah dalam urusan pernikahan bukan?

Selanjutnya masalah fiqh Muamalat yang berkaitan dengan bisnis Islam juga sudah didukung dan difasilitasi pemerintah mulai dari pendirian berbagai bank, asuransi, bursa efek, badan arbitrase syari'ah serta lembaga lain yang terkait berikut produk dan perundang-undangannya.

Semua itu menunjukkan bahwa pemerintah RI sudah menegakkan syari'ah yang berkaitan dengan fiqh muamalah.

Lalu dalam hal fiqh jinayah pun, sebagian sudah ditegakkan, seperti perencana pembunuhan, pengedar narkoba, teroris sudah banyak dikenakan hukum mati, lalu pencuri dipenjara (sebagai pemahaman lain dari hukum potong tangan dari sudut maslahat mursalah).

Itu semua bukti bahwa NKRI sudah menerapkan hukum syariat Islam.

Kamis, 26 September 2019

DARAH YG KELUAT SAAT KONTRAKSI

*Rumusan Pembahasan Haid No. 23*

_*DarahRumusan Pembahasan Haid No. 23*

_*Darah Yang Keluar Saat Kontraksi*_

Saat mengalami kontraksi wanita kadang mengalami pendarahan. Apakah bisa dihukumi haid?

*Jawaban :*

Ulama sepakat bahwa darah yang keluar bersamaan dengan kontraksi atau rasa sakit akan melahirkan hukumnya haid. Jika *Bersambung* dengan haid yang terjadi sebelumnya (sebelum sakit kontraksi terjadi, sudah mengeluarkan darah selama 24 jam.)

Jika tidak bersambung dengan haid sebelumnya (misalnya sebelum thalq terdapat bersih 5 menit) maka darah yang bersamaan thalq hukumnya khilaf:
1. Mayoritas menyatakan bukan haid
2. Menurut Imam Qalyubi tetap dihukumi haid asal masih masa imkan (masih dalam masa 15 hari).

Demikian juga terdapat khilaf jika darah sebelum thalq kurang dari 24 jam maka:
1. Bukan haid
2. Menurut as-Syirbini haid asal totalnya 24 jam dengan thalq.
Misalnya keluar 22 jam lalu thalq dan keluar 2 jam.
___________

*Catatan*
*Ta'rif Thalq* : طلق adalah وجع الولادة.
Rasa sakit yang biasa dialami ketika hampir melahirkan. Kalau blm terasa sakit berarti bukan طلق.
Keluar darah dan sakit sama2 tanda2 menjelang persalinan, dan kasus tiap orang berbeda, ada yg sakit dulu baru keluar darah, ada yg darah dulu baru sakit.

Referensi :
نهاية المحتاج ج ١ صـــ ٣٢٣
والنفاس : الدم الخارج بعد فراغ الرحم من الحمل ، فخرج بذلك دم الطلق ، والخارج مع الولد فليس بحيض لكونه من آثار الولادة ، ولا نفاس لتقدمه على خروج الولد بل هو دم فساد إلا أن يتصل بحيضها المتقدم فإنه يكون حيضا.

_________

حاشية البجيرمي على الخطيب ج ١ صـــ ٥٠٥
فخرج بما ذكر دم الطلق والخارج مع الولد فليسا بحيض لأن ذلك من آثار الولادة ولا نفاس لتقدمه على خروج الولد ، بل ذلك دم فساد ، نعم المتصل من ذلك بحيضها المتقدم حيض.
(قوله: فليسا بحيض) *محله ما لم يتصل بحيض متقدم على الطلق، وإلا كان كل من الخارج مع الطلق او الولادة حيضا أيضا حتى لو استمر الخارج مع الطلق وخروج الولد إلى ان يتصل الخارج بالنفاس بعد تمام الولادة كان جميعه حيضا وإن لزم اتصال النفاس بالحيض بدون فاصل طهر بينهما*، بخلاف ما لو جاوز دم النفاس ستين، فإنه يكون استحاضة ولا يجعل ما بعد الستين حيضا متصلا بالنفاس، واعتبار المتصل بينهما فيما إذا تأخر النفاس دون ما إذا تقدم اهـ ع ش على م ر.
______
غرر البهية ج ١ صـــ ٢١٢
وَإِنَّمَا يَكُونُ الْخَارِجُ مَعَ الْوَلَدِ أَوْ الطَّلْقِ دَمَ فَسَادٍ إنْ لَمْ يَتَّصِلْ بِحَيْضِهَا الْمُتَقَدِّمِ وَإِلَّا كَانَ حَيْضًا م ر *وَفِي ق ل عَلَى الْجَلَالِ أَنَّهُ يَكُونُ حَيْضًا مَا دَامَ فِي وَقْتِهِ وَسَيَأْتِي تَقْيِيدُ ذَلِكَ كُلِّهِ بِمَا إذَا بَلَغَ أَقَلَّ الْحَيْضِ* وَإِلَّا كَانَ دَمَ فَسَادٍ. اهـ

ما خرج غير متصل بدم محكوم بأنه حيض عند أول الطلق إلى تمام خروج الولد دم فساد وما اتصل بحيض يستمر حكم الحيض عليه إلى تمام خروج الولد فحينئذ يكون نفاسا وعبارة شرحي للعباب والدم والخارج مع الولد ، أو حال الطلق دم فساد على الأصح في المجموع وغيره فليس بحيض ؛ لأنه من آثار الولادة ولأن انزعاج البدن بالطلق يدل على خروجه لهذه العلة لا للجبلة ولا نفاس لتقدمه على خروج الولد نعم المتصل من ذلك بحيضها المتقدم حيض انتهت
الفتاوي الكبرى الفقهية لابن حجر ج ١ ص ٤١

ثم رايت في فتاوي للشهاب ابن حجر بخطه ما نصه ما خرج غير متصل بدم محكوم بانه حيض عند اول الطلق الى تمام خروج الولد دم فسادوزا اتصل بحيض يستمر حكم الحيض عليه الى تمام خروج الولد اهـ
حاشية  الامام ابن قاسم العبادي على الغرر البهية شرح البهجة ج ١ ص ٥٨٤

قوله بالحيض اي بالدم التقذم وان لم يبلغ مقدار الحيض بشر ان يبلغ المجموع مقداره
تقرير الشيخ عبد الرحمن الشربني على حاشية  الامام ابن قاسم العبادي على الغرر البهية شرح البهجة ج ١ ص ٥٨٤ Yang Keluar Saat Kontraksi*_

Saat mengalami kontraksi wanita kadang mengalami pendarahan. Apakah bisa dihukumi haid?

*Jawaban :*

Ulama sepakat bahwa darah yang keluar bersamaan dengan kontraksi atau rasa sakit akan melahirkan hukumnya haid. Jika *Bersambung* dengan haid yang terjadi sebelumnya (sebelum sakit kontraksi terjadi, sudah mengeluarkan darah selama 24 jam.)

Jika tidak bersambung dengan haid sebelumnya (misalnya sebelum thalq terdapat bersih 5 menit) maka darah yang bersamaan thalq hukumnya khilaf:
1. Mayoritas menyatakan bukan haid
2. Menurut Imam Qalyubi tetap dihukumi haid asal masih masa imkan (masih dalam masa 15 hari).

Demikian juga terdapat khilaf jika darah sebelum thalq kurang dari 24 jam maka:
1. Bukan haid
2. Menurut as-Syirbini haid asal totalnya 24 jam dengan thalq.
Misalnya keluar 22 jam lalu thalq dan keluar 2 jam.
___________

*Catatan*
*Ta'rif Thalq* : طلق adalah وجع الولادة.
Rasa sakit yang biasa dialami ketika hampir melahirkan. Kalau blm terasa sakit berarti bukan طلق.
Keluar darah dan sakit sama2 tanda2 menjelang persalinan, dan kasus tiap orang berbeda, ada yg sakit dulu baru keluar darah, ada yg darah dulu baru sakit.

Referensi :
نهاية المحتاج ج ١ صـــ ٣٢٣
والنفاس : الدم الخارج بعد فراغ الرحم من الحمل ، فخرج بذلك دم الطلق ، والخارج مع الولد فليس بحيض لكونه من آثار الولادة ، ولا نفاس لتقدمه على خروج الولد بل هو دم فساد إلا أن يتصل بحيضها المتقدم فإنه يكون حيضا.

_________

حاشية البجيرمي على الخطيب ج ١ صـــ ٥٠٥
فخرج بما ذكر دم الطلق والخارج مع الولد فليسا بحيض لأن ذلك من آثار الولادة ولا نفاس لتقدمه على خروج الولد ، بل ذلك دم فساد ، نعم المتصل من ذلك بحيضها المتقدم حيض.
(قوله: فليسا بحيض) *محله ما لم يتصل بحيض متقدم على الطلق، وإلا كان كل من الخارج مع الطلق او الولادة حيضا أيضا حتى لو استمر الخارج مع الطلق وخروج الولد إلى ان يتصل الخارج بالنفاس بعد تمام الولادة كان جميعه حيضا وإن لزم اتصال النفاس بالحيض بدون فاصل طهر بينهما*، بخلاف ما لو جاوز دم النفاس ستين، فإنه يكون استحاضة ولا يجعل ما بعد الستين حيضا متصلا بالنفاس، واعتبار المتصل بينهما فيما إذا تأخر النفاس دون ما إذا تقدم اهـ ع ش على م ر.
______
غرر البهية ج ١ صـــ ٢١٢
وَإِنَّمَا يَكُونُ الْخَارِجُ مَعَ الْوَلَدِ أَوْ الطَّلْقِ دَمَ فَسَادٍ إنْ لَمْ يَتَّصِلْ بِحَيْضِهَا الْمُتَقَدِّمِ وَإِلَّا كَانَ حَيْضًا م ر *وَفِي ق ل عَلَى الْجَلَالِ أَنَّهُ يَكُونُ حَيْضًا مَا دَامَ فِي وَقْتِهِ وَسَيَأْتِي تَقْيِيدُ ذَلِكَ كُلِّهِ بِمَا إذَا بَلَغَ أَقَلَّ الْحَيْضِ* وَإِلَّا كَانَ دَمَ فَسَادٍ. اهـ

ما خرج غير متصل بدم محكوم بأنه حيض عند أول الطلق إلى تمام خروج الولد دم فساد وما اتصل بحيض يستمر حكم الحيض عليه إلى تمام خروج الولد فحينئذ يكون نفاسا وعبارة شرحي للعباب والدم والخارج مع الولد ، أو حال الطلق دم فساد على الأصح في المجموع وغيره فليس بحيض ؛ لأنه من آثار الولادة ولأن انزعاج البدن بالطلق يدل على خروجه لهذه العلة لا للجبلة ولا نفاس لتقدمه على خروج الولد نعم المتصل من ذلك بحيضها المتقدم حيض انتهت
الفتاوي الكبرى الفقهية لابن حجر ج ١ ص ٤١

ثم رايت في فتاوي للشهاب ابن حجر بخطه ما نصه ما خرج غير متصل بدم محكوم بانه حيض عند اول الطلق الى تمام خروج الولد دم فسادوزا اتصل بحيض يستمر حكم الحيض عليه الى تمام خروج الولد اهـ
حاشية  الامام ابن قاسم العبادي على الغرر البهية شرح البهجة ج ١ ص ٥٨٤

قوله بالحيض اي بالدم التقذم وان لم يبلغ مقدار الحيض بشر ان يبلغ المجموع مقداره
تقرير الشيخ عبد الرحمن الشربني على حاشية  الامام ابن قاسم العبادي على الغرر البهية شرح البهجة ج ١ ص ٥٨٤

KALIMAT YANG JARANG DIGUNAKN. DALAM NAHWU TAPI DIGUNAKAN DALAM USUL FIQH

KALIMAT YANG JARANG DISEBUTKAN DI DALAM KITAB NAHWU DAN SHORROF BAHKAN DIDALAM KAMUSPUN JARANG KITA JUMPAI NAMUN DIDALAM ILMU USHUL SERING KITA JUMPAI KALIMAT TERSEBUT

Yang sering dipakai dikitab kitab nahwu dan shorrof ialah kalimat اطراد sedangkan اضطراد kita sering menjumpainya didalam kitab-kitab ushul

اضطرد معدل النمو
الحكم مرفوضة عند الأكثرين
السبب لأن (افتعل) من (طرد) لم تأت بهذا الشكل في المعاجم

المعنى تتابع الصواب والرتبة
اطَّرَدَ مُعدل النمو (فصيحة)
اضْطَرَدَ مُعدل النمو (صحيحة)
التعليق عند صوغ (افتعل) من (طَرَدَ) تُقْلب تاء الافتعال طاء، وتُدْغَم الطاءان فتصبح (اطَّرَدَ) ولكن جاء في اللسان الاضطراد هو الطِّراد وهو افتعال من طِرَاد الخيل وهو عَدْوُها وتتابعها فقلبت تاء الافتعال طاء ثم قلبت الطاء الأصلية ضادًا

وفي حديث مجاهد إذا كان عند اضطراد الخيل .. أجزأ الرجل أن تكون صلاته تكبيرًا

وفي مسند ابن حنبل واضطردت طرقها أنهارًا وعلى هذا يصح التعبير المرفوض.

Saya menemukan keterangan seperti di atas ini yang intinya kedua kalimat (اطرد) dan (اضطرد)  sama² benar dan sama² digunakan di dalam lisan arab.

Namun bahasa yang fasih (fasihah) dan sesuai kaidah bahasa arab adalah (اطرد) sedangkan kalimat (اضطرد) dianggap bahasa shohihah

(ضطرد)
في حديث مجاهد إذا كان عند اضطراد الخيل وعند سل السيوف أجزأ الرجل أن تكون صلاته تكبيرا الاضطراد هو الاطراد وهو افتعال من طراد الخيل وهو عدوها وتتابعها فقلبت تاء الافتعال طاء ثم قلبت الطاء الأصلية ضادا وموضعه حرف الطاء وإنما ذكرناه هاهنا لأجل لفظه

النهاية في غريب الحديث والأثر لابن الأثير أبو السعادات ج ٣ ص ٨٨

Yang dimaksud dengan اضطراد ialah اطراد yang mana lafadz tersebut mengikuti wazan افتعال

Proses I'lalnya

اضطراد  اصله اطتراد على وزن افتعال

اطتراد

Huruf ت ziyadah dari اطتراد diganti dengan huruf ط maka menjadi اططراد kemudian huruf ط  asli (huruf tho' pertama) diganti dengan huruf ض dan menempati posisinya , pada kalimat tersebut huruf ض ditampilkan karna ada tujuan yang berkepentingan pada lafafznya

Reff : Annihayat fi ghoribil hadits wal atsar juz 3 hal 88

وفي حديث مجاهد (إذا كان عند اضطراد ٢۝ الخيل وعند سل السيوف أجزأ الرجل أن تكون صلاته تكبيرا) الاضطراد هو الطراد وهو افتعال من طراد الخيل وهو عدوها وتتابعها فقلبت تاء الافتعال طاء ثم قلبت الطاء الأصلية ضادا.

٢۝ في اللسان عند اطراد

تاج العروس للشيخ مرتضى الزبيدي  ج ٨ ص ٣٢٣

Dalam kitab taajul 'Arus ini sama dengan keterangan sebelumnya

Yaitu huruf ط asli diganti dengan huruf ض namun dalam catatan kaki kitab tajul arus kitab asli cetakan hal 80 disebutkan meskipun pelafadza اضطراد dengan memakai huruf ض tapi ketika pengucapa secara lisan berbunyi اطراد

الضاد أقرب الحروف إليها وهو اللام وهو نادر  قال الأزهري
 وربما أبدلوا اللام ضادا كما أبدلوا الضاد لاما

قال بعضهم الطراد واضطراد لطراد الخيل . وفي الحديث عن مجاهد أنه قال إذا كان عند اضطراد الخيل وعند سل السيوف أجزأ الرجل أن تكون صلاته تكبيرا فسره ابن إسحاق الطراد بإظهار اللام وهو افتعال من طراد الخيل وهو عدوها وتتابعها فقلبت تاء الافتعال طاء ثم قلبت الطاء الأصلية ضادا وهذا الحرف ذكره ابن الأثير في حرف الضاد مع الطاء واعتذر عنه بأن موضعه حرف الطاء وإنما ذكره هنا لأجل لفظه

لسان العرب ج ٩ ص ١٧

Keterangan dalam kamus lisanul arob juga sama keterangannya dengan ibarot yang sebelumnya namun ada penambahan komentar ibnu atsir yang mengatakan bahwa huruf ض bersamaan dengan huruf ط menurut beliau ini menyulitkan sebab posisinya huruf ض  ini adalah ط menyebutkan huruf ض pada kalimat اضطراد karna ada kepentingan lafadznya

Wallahu A'lam

Nama : AHMED A. BILFEYD

AIR PLENTING

bagaimana ya hukumnya air yang keluar dari plentingan kutu air / kurap, najiskah ? kelihatannya bukan nanah.

Jawab :

Bila berbau maka najis :

الشرقاوي ١/١٢٠

قوله و ماء المتنفط أى الذي له ريح والا فطاهر خلافاللرافعي كما مر والمراد بالمتنفط البقابيق المعروفة

Sabtu, 21 September 2019

Jika Sucinya Tidak Sampai 15

*Rumusan Pembahasan Haid No 5*
*Jika Sucinya Tidak Sampai 15 bagian 01*
*Menyempurnakan Suci*
*Penyempurna Suci*

Jika keluar darah lalu bersih yg tidak sampai 15 hari. Kemudian keluar darah lagi. Maka sucinya disempurnakan 15 hari dengan syarat.

1. Darah pertama tidak kurang 24 jam dan tidak lebih dari 15 hari
2. Masa bersih setelahnya jika digabung dengan darah pertama tidak kurang dari 15 hari
3. Darah pertama keluar terus (tidak taqottuk) kecuali menurut sibtus syafii yg tdk menyaratkannya. Musyawirin belum menemukan kriteria taqottuk ini. Ada kemungkinan yg dimaksud taqottuk ialah darah putus2 secara konstan semisal 1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1 dst
4. Tidak menyalahi adat haid yang takarrur (konstan)


Perlu diketahui bahwa kaidah baqiyyatut tuhri pertama kali dirumuskan oleh Imam Abdullah bin Umar Bamakhromah (ulama hadhramaut yg semasa dg imam ibnu hajar) Sebelum itu tidak ada kaidah ini. Yang ada hanya contoh2 saja.

Kaidah yang ada di Bughyah, Fatawa bin Yahya, Fatawa Bafadhol dll semua mengambil dari Syekh Bamakhromah.

Syekh bamakhromah membahas masalah ini sangat panjang sekali di fatawa beliau yg masih berupa manuskrip dari hal. 114-135. Beliau menyebutkan bhw banyak sekali ulama yg salah dlm memahami masalah ini. Beliau mengatakan pernah diskusi masalah ini dg imam Ibnu Hajar dan imam Abul Hasan al Bakri. Setelah diskusi syekh bamakhromah berkomentar:
فخلطا فيها تخليطا لا يصدر ممن  يعرف الفقه..😂😂😂

Wallahu a'lam

Referensi:

Manahilul Irfan Fatawa Syekh Fadhol 138-139
Fatawa bin yahya, 24-25
al-ibanah wal ifadhah 60
Fatawi ba makhromah, 118-119
Majmu syarah muhadzab
Syarhil Bahjah

الحال الثاني: إذا انقطع الدم وجاوز خمسة عشر فإذا رأت يوما وليلة دما ومثله نقاء وهكذا حتى جاوز خمسة عشر متقطعا فلا خلاف أنه لا يلتقط لها أيام الحيض من جميع الشهر وإن كان مجموع الملتقط دون خمسة عشر ولكنها مستحاضة اختلط حيضها بالاستحاضة وهي ذات تقطع هذا هو الصحيح المشهور الذي نص عليه الشافعي في كتاب الحيض وقطع به جماهير الأصحاب المتقدمين والمتأخرين وقال أبو عبد الرحمن ابن بنت الشافعي وأبو بكر المحمودي وغيرهما ليست مستحاضة بل السادس عشر فما بعده طهر لها فيه حكم الطاهرات المستحاضات وأما الخمسة عشر فهي على القولين في التلفيق أحدهما السحب فتكون كل الخمسة عشر حيضا والثاني التلفيق فتكون أيام الدم حيضا والنقاء طهرا وهذا الذي ذكرناه من قول ابن بنت الشافعي ومتابعيه هو فيما إذا انفصل دم الخمسة عشر عما بعدها فكانت ترى يوما وليلة دما ومثله نقاء فالسادس عشر يكون نقاء فلو اتصل الدم بالدم بأن رأت ستة أيام دما ثم ستة نقاء ثم ستة دما فالسادس عشر فيه دم متصل بدم الخامس عشر فقد وافق ابن بنت الشافعي وغيره الأصحاب وقال هي في الجميع مستحاضة
المجموع شرح المهذب


اما إذا كانت عادتها الخمسة الثانية فرأت الدم من أول الشهر واتصل ففيه الوجهان المشهوران في الكتاب الصحيح منهما عند المصنف وشيخه أبي الطيب وصاحب البيان وغيرهم أن حيضها الخمسة المعتادة لان العادة تثبت فيها فلا تغير الا بحيض صحيح فعلى هذا يبقى دورها كما كان
والثاني وهو قول أبي العباس حيضها الخمسة الأولى من الشهر فعلى هذا يكون قد نقص طهرها خمسة أيام وصار دورها خمسة وعشرين
ولو كانت المسألة بحالها  فرأت الخمسة المعتادة وطهرت دون الخمسة عشر تم رأت الدم واتصل فإنها تبقى على عادتها بلا خلاف ووافق عليه أبو العباس
أما إذا كان عادتها الخمسة الأولى فرأتها ثم طهرت خمسة عشر ثم أطبق الدم واستمر فوجهان المذهب عند  المصنف وشيخه وغيرهما أنها على عادتها ويكون حيضها خمسة من أول كل شهر وباقيه طهر فعلى هذا يكون باقي هذا الشهر طهرا ولا أثر للدم الموجود فيه
والثاني أن الخمسة الأولي من الدم الثاني حيض فعلى هذا يصير دورها عشرين خمسة حيض وخمسة عشر طهر
ولو رأت الخمسة المعتادة وطهرت عشرة ثم رأت  دما متصلا ردت إلى الخمسة المعتادة من أول كل شهر بلا خلاف
المجموع شرح المهذب


فلو رأت خمستها المعهودة المتخللة بنقاء من أول الشهر ثم دما متصلا أو رأت خمستها المعهودة المتصلة من أول الشهر ثم نقاء عشرة ثم دما متصلا ردت إلى عادتها من أول كل شهر كما قاله في المجموع لكن فيه لو رأت خمستها المعهودة حمرة ثم أطبق السواد فحيضها خمسة من أول السواد وقد انتقلت عادتها وفيه أيضا كالروضة وأصلها أنها لو رأت خمستها المعهودة من أول الشهر ثم نقاء أربعة عشر ثم دما متصلا فالأصح أن يوما من أول الدم المتصل استحاضة تكميلا للطهر وخمسة بعده حيض وخمسة عشر طهر وصار دورها عشرين

---------
(قوله ردت إلى عادتها) أي: قدرا ووقتا فإن قلت: هذا يقتضي امتناع العمل بالنقل على خلاف ما سيأتي في الأربعة عشر قلت: أجاب عن ذلك حجر في شرح العباب وأقره سم بما حاصله أن عدم النقل في ذلك محمول على ما إذا كانت العادة متكررة مرتين فأكثر؛ لأنها متى كانت متكررة وقد نقص النقاء عن أقل الطهر لم يقو على معارضتها فاستصحب ولا نقل
(قوله: ثم نقاء أربعة عشر) أي: ولم يتكرر ذلك وإلا ردت لعادتها من أول كل شهر كما هو مقتضى جواب حجر السابق.
الغرر البهية

Selasa, 17 September 2019

TULISAN BASMALAH

TULISAN BASMALAH

Diskripsi Masalah
Sering kita jumpai tulisan basmalah pada semisal kata pengantar sebuah buku atau surat dan semisalnya. Dalam penulisannya, ada yang menggunakan huruf arab, kadang-kadang dengan menggunakan huruf abjad indonesia dan bahkan dalam bentuk terjemahan ke bahasa indonesia.

🍁Pertanyaan :
Apa hukum menelantarkan kertas dan sesamanya yang bertuliskan “ bismillahirrahmaanirrahiim” ( tidak dengan huruf arab ) atau terjemahannya ?

🍁Jawab : haram kalau ngerti dan disengaja. Dan ketika melihat diterlantarkan maka wajib mengambilnya
🔰 شرح الياقوت النفيس ص ٤٩
و يحرم رمي المصحف و المجلات التي تحتوي على آيات قرآنية و أسماء الله و ذلك لكرامة اللفظ. و مما ابتلينا به الصحف و الجرائد اليومية و غيرها التي ترمى في الطرق و ترمى في المزابل فعلى المسلم ان يحفظ مثل هذه الأوراق.ومن العلماء من لا يستحسن كتابتها على كل ما نهايته الرمي لا الحفظ و قالوا ان البسملة من كلام الله يلزم صيانته و كلام الله يلزم صيانته و حفظه و عدم اهانته أو تحقيره

🔰 حواشي الشرواني والعبادي ج ١ ص ١٥٤
( قَوْلُهُ : وَوَضْعُ نَحْوِ دِرْهَمٍ إلَخْ ) عِبَارَةُ النِّهَايَةِ وَلَا يَجُوزُ جَعْلُ نَحْوِ ذَهَبٍ فِي كَاغَدٍ كُتِبَ عَلَيْهِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ا هـ قَالَ ع ش أَيْ أَوْ غَيْرِهَا مِنْ كُلِّ مُعَظَّمٍ كَمَا ذَكَرَهُ ابْنُ حَجٍّ فِي بَابِ الِاسْتِنْجَاءِ وَمِنْ الْمُعَظَّمِ مَا يَقَعُ فِي الْمُكَاتَبَاتِ وَنَحْوِهَا مِمَّا فِيهِ اسْمُ اللَّهِ وَاسْمُ رَسُولِهِ مَثَلًا فَيَحْرُمُ إهَانَتُهُ بِنَحْوِ وَضْعِ دَرَاهِمَ فِيهِ ا هـ . إلى ان قال - ( قَوْلُهُ : مَا كُتِبَ إلَخْ ) عِبَارَةُ النِّهَايَةِ وَالْمُغْنِي قِرْطَاسٌ فِيهِ اسْمُ اللَّهِ تَعَالَى ا هـ قَالَ ع ش أَيْ أَوْ اسْمُ مُعَظَّمٍ كَأَسْمَاءِ الْأَنْبِيَاءِ حَيْثُ دَلَّتْ قَرِينَةٌ عَلَى إرَادَتِهِمْ عِنْدَ الِاشْتِرَاكِ فِيهِ ا هـ .

🔰 حاشية الجمل ج ١ ص ٢٥٢
(فَائِدَةٌ ) سُئِلَ الشِّهَابُ الرَّمْلِيُّ هَلْ تَحْرُمُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ الْعَزِيزِ بِالْقَلَمِ الْهِنْدِيِّ ، أَوْ غَيْرِهِ فَأَجَابَ بِأَنَّهُ لَا يَحْرُمُ لِأَنَّهَا دَالَّةٌ عَلَى لَفْظِهِ الْعَزِيزِ وَلَيْسَ فِيهَا تَغْيِيرٌ لَهُ بِخِلَافِ تَرْجَمَتِهِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لِأَنَّ فِيهَا تَغْيِيرًا .وَعِبَارَةُ الْإِتْقَانِ لِلسُّيُوطِيِّ هَلْ يَحْرُمُ كِتَابَتُهُ بِقَلَمٍ غَيْرِ الْعَرَبِيِّ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ لَمْ أَرَ فِيهِ كَلَامًا لِأَحَدٍ مِنْ الْعُلَمَاءِ وَيَحْتَمِلُ الْجَوَازَ ؛ لِأَنَّهُ قَدْ يُحْسِنُهُ مَنْ يَقْرَؤُهُ ، وَالْأَقْرَبُ الْمَنْعُ انْتَهَتْ ، وَالْمُعْتَمَدُ الْأَوَّلُ ا هـ بِرْمَاوِيٌّ .وَعِبَارَةُ ق ل عَلَى الْمَحَلِّيِّ وَتَجُوزُ كِتَابَتُهُ لَا قِرَاءَتُهُ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ وَلِلْمَكْتُوبِ حُكْمُ الْمُصْحَفِ فِي الْحَمْلِ ، وَالْمَسِّ انْتَهَتْ .

🔰 حاشية الجمل على فتح الوهاب ج ١ ص ٨٣
( قَوْلُهُ : مَا عَلَيْهِ مُعَظَّمٌ ) لَيْسَ الْمُرَادُ مُطْلَقَ التَّعْظِيمِ بَلْ مَا يَقْتَضِي الْعِصْمَةَ ا هـ شَوْبَرِيٌّ . وَفِي ق ل عَلَى الْمَحَلِّيِّ وَمِنْ الْمُعَظَّمِ أَسْمَاءُ اللَّهِ الْخَاصَّةُ بِهِ ، أَوْ الْمُشْتَرَكَةُ بِقَصْدِهِ وَأَسْمَاءُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمَلَائِكَةِ وَلَوْ عَوَامَّهُمْ قَالَ شَيْخُنَا وَكَذَا أَسْمَاءُ صُلَحَاءِ الْمُؤْمِنِينَ كَالصُّلَحَاءِ ، وَالْأَوْلِيَاءِ فَإِنْ دَخَلَ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ غَيَّبَهُ فِي نَحْوِ عِمَامَتِهِ وَيَحْرُمُ تَنْجِيسُهُ وَلَوْ فِي غَيْرِ الِاسْتِنْجَاءِ فَرَاجِعْهُ ا هـ . ( قَوْلُهُ : مِنْ قُرْآنٍ ، أَوْ غَيْرِهِ ) سَوَاءٌ كَانَ الْقُرْآنُ مَكْتُوبًا بِالْخَطِّ الْعَرَبِيِّ ، أَوْ بِغَيْرِهِ كَالْهِنْدِيِّ لِأَنَّ ذَوَاتَ الْحُرُوفِ لَيْسَتْ قُرْآنًا ، وَإِنَّمَا هِيَ دَالَّةٌ عَلَيْهِ ا هـ ع ش وَبَحَثَ الْأَذْرَعِيُّ تَحْرِيمَ إدْخَالِ الْمُصْحَفِ الْخَلَاءَ بِلَا ضَرُورَةٍ إجْلَالًا لَهُ وَتَكْرِيمًا ، وَالْمَنْقُولُ الْكَرَاهَةُ وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ عِنْدَ م ر كَكُلِّ مَا عَلَيْهِ مُعَظَّمٌ وَالْمُشْتَرَكُ كَعَزِيزٍ وَكَرِيمٍ وَمُحَمَّدٍ وَأَحْمَدَ وَمَا يُوَحَّدُ نَظْمُهُ مِنْ الْقُرْآنِ فِي غَيْرِهِ عَلَى مَا بَحَثَهُ الْأَذْرَعِيُّ كَالْمُخْتَصِّ إنْ قُصِدَ بِهِ الْمُعَظَّمُ أَوْ دَلَّتْ عَلَى ذَلِكَ قَرِينَةٌ ا هـ شَرْحُ الْإِرْشَادِ لِشَيْخِنَا .

🔰 حاشية البجيرمي على الخطيب ج ٣ ص ٣١٧
وَيَجُوزُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ بِخِلَافِ قِرَاءَتِهِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ فَيُمْتَنَعُ ، وَهَلْ يَجُوزُ كِتَابَتُهُ بِالرِّجْلِ مَعَ قُدْرَتِهِ عَلَى كِتَابَتِهِ بِالْيَدِ أَمْ لَا ؟ فِيهِ نَظَرٌ .وَالْأَقْرَبُ الْمَنْعُ ؛ لِأَنَّهُ لَا يُقْصَدُ بِذَلِكَ إلَّا مُجَرَّدُ الْفِرَاسَةِ إلَّا أَنْ يُحْمَلَ الْجَوَازُ عَلَى مَا إذَا اُضْطُرَّ لِنَحْوِ نَفَقَةٍ ، وَانْحَصَرَتْ فِي اكْتِسَابِهِ بِكِتَابَةِ الْقُرْآنِ بِمَا ذُكِرَ ، وَفَائِدَةُ كِتَابَتِهِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ مَعَ حُرْمَةِ الْقِرَاءَةِ بِهَا أَنَّهُ قَدْ يُحْسِنُهَا مَنْ يَقْرَؤُهُ بِالْعَرَبِيَّةِ أَيْ : وَيَحْرُمُ مَسُّهُ وَحَمْلُهُ ، وَالْحَالَةُ مَا ذُكِرَ ؛ لِأَنَّهُ مُسَمَّيَاتُهَا وَدَوَالُّهَا إنَّمَا هُوَ الْقُرْآنُ ؛ لِأَنَّهُ لَوْ قِيلَ لِمَنْ كَتَبَهُ بِالْهِنْدِيِّ : انْطِقْ بِمَا كَتَبَهُ نَطَقَ بِلَفْظِ الْقُرْآنِ ، نَقَلَهُ ا ط ف عَنْ ع ش .وَفِيهِ عَلَى م ر نَقْلًا عَنْ سم عَلَى حَجّ فَرْعٌ ، وَأَفْتَى شَيْخُنَا م ر بِجَوَازِ كِتَابَةِ الْقُرْآنِ بِالْقَلَمِ الْهِنْدِيِّ وَقِيَاسُهُ جَوَازُهُ بِنَحْوِ التُّرْكِيِّ أَيْضًا .

🔰 الموسوعة الفقهية الكويتية ج ١ ص ١٣٩٦٨
المصحف إن كتب على لفظه العربيّ بحروف غير عربيّةٍ فهو مصحف وله أحكام المصحف , وبهذا صرّح الحنفيّة ففي الفتاوى الهنديّة وتنوير الأبصار: يكره عند أبي حنيفة لغير المتطهّر مس المصحف ولو مكتوباً بالفارسيّة , وكذا عند الصّاحبين على الصّحيح. وعند الشّافعيّة مثل ذلك , قال القليوبي: تجوز كتابة المصحف بغير العربيّة لا قراءته بها , ولها حكم المصحف في المسّ والحمل.